KALDERA BATUR HARMONI ALAM DAN BUDAYA

 


KALDERA BATUR HARMONI ALAM DAN BUDAYA

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Kawasan Batur UNESCO Global Geopark merupakan Warisan Dunia di Jantung Bali

 

Pada tanggal 20 September 2012, sebuah tonggak bersejarah tercipta bagi Indonesia ketika kawasan Batur, Kintamani secara resmi ditetapkan sebagai bagian dari Global Geoparks Network (GGN) oleh UNESCO. Pengakuan ini tidak diberikan semata-mata karena keindahan visualnya, melainkan karena nilai geologi internasional yang terkandung dalam kaldera gandanya yang spektakuler. Sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp) pertama di Indonesia, Batur UGGp menjadi laboratorium alam yang memperlihatkan bagaimana proses bumi yang dinamis bersinergi dengan kehidupan di atasnya.

Kawasan Batur UGGp ini mencakup area seluas sekitar 366,4 kilometer persegi di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, yang melingkupi Gunung Batur dan Danau Batur. Status UNESCO ini membawa misi besar: Konservasi, Edukasi, dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Lokal melalui konsep pariwisata berkelanjutan (geowisata).

Pengelolaan  Batur UNESCO Global Geopark berpijak pada tiga pilar utama yang saling berkaitan dan dan tidak dapat dipisahkan. Ketiganya membentuk identitas kawasan yang unik seperti :

1.  Keragaman Geologi (Geodiversity)

Geodiversity adalah "tulang punggung" dari kawasan Batur UGGp. Ini mencakup segala aspek fisik bumi yang tidak hidup, mulai dari bentang alam kaldera yang terbentuk dari letusan dahsyat ribuan tahun lalu, hingga singkapan batu lava, abu vulkanik, dan mineral. Keragaman geologi inilah yang menciptakan lanskap dramatis yang kita lihat saat ini dan menyediakan nutrisi bagi tanah di sekitarnya.

2.  Keragaman Biologi (Biodiversity)

Di atas fondasi geologi yang kaya, tumbuhlah berbagai bentuk kehidupan. Biodiversity di Kawasan Batur UGGp mencakup flora dan fauna yang menghuni hutan lindung, lereng gunung, hingga ekosistem perairan Danau Batur. Proses suksesi alami pada lahan bekas aliran lava menjadi bukti nyata bagaimana kehidupan (biologi) mampu beradaptasi dan berkembang di atas material bumi (geologi).

 

3.  Keragaman Budaya (Cultural Diversity)

Kawasan Batur UGGp.  adalah bukti nyata bahwa alam membentuk cara hidup manusia. Masyarakat lokal telah membangun peradaban yang berakar pada karakteristik geologi kawasan ini. Kepercayaan terhadap kesucian gunung dan danau melahirkan sistem sosial-religius yang kuat, seperti penghormatan kepada Dewi Danu dan sistem irigasi Subak yang bergantung pada cadangan air di kaldera. Budaya adalah cara manusia merespons dan memuliakan keajaiban alam tempat mereka bernaung.

Melalui penelusuran ketiga aspek tersebut, buku ini hadir untuk membedah bagaimana harmoni antara batu, mahluk hidup, dan manusia tercipta di Batur UGGp. Dengan memahami keterkaitan ini, kita diharapkan tidak hanya menjadi penikmat keindahan, tetapi juga penjaga warisan agung yang telah dipercayakan dunia kepada kita.

 

B.     Mengenal Konsep UNESCO Global Geopark (UGGp)

 

UNESCO Global Geopark adalah sebuah wilayah geografis tunggal yang terintegrasi, di mana situs dan bentang alam warisan geologi internasional dikelola dengan konsep perlindungan, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan yang holistik. Batur UGGp tidak dipilih hanya karena pemandangannya, tetapi karena memenuhi Empat Pilar Utama Geopark:

1. Warisan Geologi yang Bernilai Internasional

Sebuah Geopark harus memiliki bukti sejarah bumi yang unik di skala dunia. Kaldera Batur diakui karena struktur Kaldera Ganda yang sangat sempurna dan langka, yang menjadi referensi penting bagi ilmuwan vulkanologi di seluruh dunia untuk mempelajari evolusi gunung api besar. Sesuai dengan yang dikatakan Van Bemmelen (1949),  bahwa kaldera Gunung merupakan kaldera terbesar dan terindah di dunia.

2. Manajemen dan Pengelolaan (Goverrnance)

Geopark bukan sekadar status, melainkan komitmen manajemen. Kawasan Batur dikelola oleh badan pengelola yang bekerja sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat lokal untuk memastikan bahwa pariwisata tidak merusak alam, melainkan menjaganya.

3. Visibilitas dan Edukasi

Geopark harus menjadi "sekolah alam". Melalui papan informasi, museum, dan panduan wisata, pengunjung tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi juga pulang dengan pengetahuan baru tentang bagaimana bumi terbentuk dan mengapa kita harus melindunginya.

4. Jejaring dan Kerja Sama (Networking)

Sebagai bagian dari Global Geoparks Network (GGN), Batur UGGp terhubung dengan ratusan Geopark lain di seluruh dunia (seperti Geopark Langkawi di Malaysia atau Geopark Aso di Jepang). Kerja sama ini bertujuan untuk saling berbagi praktik terbaik dalam hal konservasi dan pengembangan pariwisata.

 

C.     Kaitan Geopark Batur dengan Batur Kalawasan, Catur Dharma Kalawasa, dan Sad Kerthi Loka Bali

 

Filosofi: "Memuliakan Bumi, Mensejahterakan Masyarakat " Ini adalah slogan utama dari konsep Geopark. Perbedaan mendasar antara Geopark dengan Taman Nasional atau Cagar Alam biasa adalah fokusnya terhadap Manusia. Geologi sebagai Fondasi: Alam memberikan sumber daya dan keajaiban. Manusia sebagai Penjaga: Masyarakat lokal diberdayakan melalui Geowisata, menjadi pemandu wisata, penyedia penginapan, dan pengrajin produk lokal. Kesejahteraan. Pendapatan dari pariwisata digunakan kembali untuk melindungi alam dan meningkatkan taraf hidup warga sekitar. Pada prinsipnya  "Geopark bukan tentang melarang orang masuk ke kawasan lindung, tetapi tentang bagaimana orang bisa masuk, belajar, dan jatuh cinta pada alam, sehingga mereka secara sukarela ikut menjaganya."

Kaitan antara Kaldera Batur dengan konsep Catur Kalawasan dan Batur Kalawasan,, dan konsep Sad Kerthi Loka Bali merupakan inti dari filosofi tata ruang dan spiritualitas masyarakat Bali Aga, khususnya dalam menjaga harmoni di kawasan Batur UNESCO Global Geopark.

Keterkaitan  tersebut dalam konteks harmoni alam dan budaya yaitu seperti dibawah ini :

a.    Hubungan Batur Kalawasan dengan Geopark Batur

Memahami Konsep Batur Kalawasan, secara etimologi dan mitologi, Batur Kalawasan merujuk pada wilayah purba atau pemukiman awal di sekitar kaldera yang memiliki nilai sakral.  Batur Kalawasan dianggap sebagai Pusat Peradaban Bali Aga yaitu tempat bermulanya tatanan kehidupan masyarakat Bali asli (Bali Aga) sebelum adanya pengaruh luar yang besar, Pusat Peradaban Bali Aga. Adanya Identitas Geokultural yaitu  Istilah ini mengikat masyarakat dengan tanah kelahirannya. Bagi warga Batur, Kalawasan bukan sekadar nama tempat, melainkan memori kolektif tentang nenek moyang yang hidup berdampingan dengan gunung api yang aktif.  Batur Kalawasan bukan sekadar nama tempat, melainkan sebuah konsep teologis dan historis tentang pemukiman purba di dalam kaldera.

Hubungan Geologis  Batur Kalawasan terletak di dalam lingkungan ekstrem kaldera ganda. Lokasi ini membuktikan bahwa sejak ribuan tahun lalu, manusia Bali Aga telah mampu beradaptasi dengan dinamika vulkanik.  Sebagai Pusat Spiritual Dimana dalam literatur lokal (Purana), Batur Kalawasan dianggap sebagai tempat turunnya kekuatan suci yang menyeimbangkan Pulau Bali. Secara fisik, ini merujuk pada kesuburan tanah dan melimpahnya air yang dihasilkan dari proses geologi kaldera.

            b.    Hubungan Konsep Catur Dharma Kalawasan dengan Geopark Batur.

Catur Dharma Kalawasan (Empat Penjuru Kesucian) dimana Catur Kalawasan merujuk pada pembagian wilayah atau empat titik sentral yang melingkari kawasan Batur UGGp atau sistem nilai dan tata ruang yang membagi kawasan Batur UGGp menjadi empat wilayah atau tanggung jawab spiritual utama. Ini adalah cara masyarakat lokal "mengelola" Geopark jauh sebelum istilah "konservasi" modern muncul dan secara spiritual membagi kawasan yang masing-masing memiliki peran spiritual dan ekologis, fungsi penjaga (The Guardians): Catur Kalawasan merupakan manifestasi dari konsep Catur Lokapala (empat penjaga arah mata angin) yang dipersonifikasikan dalam geografi Kaldera Batur. Sehingga simpul Harmoni: Keempat wilayah ini memastikan bahwa setiap sisi kaldera terlindungi secara spiritual melalui keberadaan pura-pura tua atau situs-situs budaya yang menjaga kelestarian hutan dan sumber air.

Dharma / Wilayah

Kaitan dengan Kaldera Batur

Peran dalam Harmoni

Dharma Kaja (Utara)

Berorientasi pada puncak Gunung Batur (Vulkanologi).

Menjaga kesucian puncak gunung sebagai sumber energi dan kekuatan (Lingga alam).

Dharma Kelod (Selatan)

Berorientasi pada aliran air menuju danau dan sungai (Hidrologi).

Memastikan air tetap mengalir ke hilir untuk kehidupan sawah-sawah di Bali.

Dharma Kangin (Timur)

Berorientasi pada matahari terbit dan hutan purba (Biologi).

Menjaga kelestarian hutan di dinding kaldera timur (wilayah Terunyan).

Dharma Kauh (Barat)

Berorientasi pada pemukiman dan interaksi sosial (Budaya).

Mengatur tatanan hidup masyarakat agar selaras dengan ritme alam pegunungan.

 

 









c.      Hubungan Geopark dengan Konsep Sad Kerthi Loka Bali

Sad Kerthi Loka Bali adalah enam upaya menjaga kesucian dan keseimbangan alam semesta (kosmos) yang menjadi visi utama pembangunan Bali saat ini. Dalam konteks Batur UNESCO Global Geopark, Sad Kerthi merupakan jembatan filosofis yang menyatukan Geodiversity, Biodiversity, dan Cultural Diversity.

 

hubungan mendalam antara aspek-aspek tersebut antara lain :

1)      Atma Kerthi (Penyucian Jiwa) & Cultural Diversity

a)      Hubungannya merupakan dimensi spiritual dari keragaman budaya. Di Batur UGGp, penyucian jiwa dilakukan melalui ritual di pura-pura purba (seperti Pura Puncak Penulisan, Pura Ulun Danu Batur, Pura Hulun Danu Songan, Pura Tuluk Biyu).

b)      Implementasinya yaitu adanya keyakinan bahwa gunung adalah Stana (istana) Tuhan menciptakan budaya penghormatan yang mendalam terhadap bentang alam, sehingga manusia tidak berani merusak alam secara sembarangan.

2)      Segara Kerthi (Penyucian Laut/Air) & Geodiversity

a)      Hubungannya adalah meskipun Batur UGGp berada di pegunungan, Danau Batur dianggap sebagai "lautan di pegunungan". Secara geologi, danau ini adalah penampung air raksasa (reservoar).

b)      Implementasinya adalah menjaga kebersihan dan kesucian Danau Batur adalah bentuk nyata Segara Kerthi. Secara geologi, ini melindungi hidrologi pulau Bali karena air danau merembes menjadi mata air di seluruh Bali.

3)    Danu Kerthi (Penyucian Sumber Air) & Geodiversity

a)      Hubungannya Ini adalah sebagai pilar yang paling erat dengan Batur GUUp. Danu Kerthi fokus pada perlindungan danau dan mata air sebagai sumber kemakmuran.

b)      Implementasinya secara geologi, Kaldera Batur adalah Water Tower Bali. Upacara Mapag Toya oleh petani Subak adalah bentuk budaya yang menjaga fungsi geologi danau agar tetap lestari.

4)      Wana Kerthi (Penyucian Hutan) & Biodiversity

a)    Hubungannya terfokus pada pelestarian hutan dan pegunungan sebagai paru-paru dunia dan rumah bagi berbagai spesies.

b)    Implementasinya Dimana perlindungan hutan di dinding Kaldera Batur dan lereng gunung menjaga Biodiversity (flora dan fauna endemik). Hutan yang lestari menjaga suhu udara Kintamani dan mencegah erosi pada dinding kaldera yang merupakan Geosite penting.

5)      Jana Kerthi (Penyucian Manusia) & Cultural Diversity

a)    Hubungannya menitikberatkan pada kualitas sumber daya manusia dan tatanan sosial masyarakat (Bali Aga).

b)    Implementasinya yaitu pemberdayaan masyarakat lokal di dalam geopark agar memiliki pengetahuan (edukasi geopark) dan etika dalam mengelola warisan bumi. Masyarakat yang berdaya secara budaya akan mampu menjadi pemandu wisata geologi dan biologi yang handal.

6)    Jagat Kerthi (Penyucian Alam Semesta) & Integrasi Ketiganya

a)    Hubungannya adalah adanya upaya menjaga harmoni hubungan antara manusia dengan seluruh lingkungan (alam fisik dan biotik).

b)    Implementasinya Ini adalah suatu konsep Integrasi Total. Jagat Kerthi mewujudkan harmoni di mana keragaman geologi (tanah), biologi (makhluk hidup), dan budaya (manusia) hidup berdampingan secara seimbang dalam satu ekosistem Kaldera Batur.

Tabel Hubungan Sad Kerthi dengan Pilar Geopark

Pilar Sad Kerthi

Fokus Utama

Pilar Geopark Terkait

Danu Kerthi

Danau & Mata Air

Geodiversity (Hidrologi)

Wana Kerthi

Hutan & Pohon

Biodiversity (Ekologi)

Atma & Jana Kerthi

Jiwa & Manusia

Cultural Diversity (Spiritual & Sosial)

Segara Kerthi

Siklus Air

Geodiversity (Bentang Alam)

Jagat Kerthi

Keseimbangan Alam

Integrasi Total (Geo-Bio-Cultur)

  

d.      Kaitan dengan Harmoni Bali (Pilar Geopark)

Hubungan antara Kaldera Batur dengan konsep Kalawasan ini dapat dibedah melalui pilar Geopark:

a)      Geologi sebagai Landasan Spiritual

Dinding kaldera (rim) yang melingkar menjadi batas fisik sekaligus batas suci wilayah Kalawasan. Masyarakat melihat bentuk fisik kawah sebagai "cawan suci" yang harus dijaga. Tanpa bentang alam kaldera yang unik ini, konsep tata ruang Catur Kalawasan tidak akan terbentuk.

b)    Biologi dan Hutan Lindung

Wilayah-wilayah dalam Catur Kalawasan biasanya merupakan daerah yang kaya akan vegetasi (seperti hutan di balik dinding kaldera). Kepercayaan bahwa wilayah Kalawasan adalah area sakral secara otomatis melindungi keanekaragaman hayati (Biodiversity) di dalamnya dari penebangan liar.

c)    Budaya dan Sistem Sosial

·         Hulu Apad di Kawasan BUGGpy aitu adanya  struktur kepemimpinan masyarakat di wilayah Kalawasan (Bali Aga) sangat terikat dengan hierarki kesucian gunung.

·         Subak sebagai organisasi pengelolaan air dibali yang kaitannya antara Batur Kalawasan dengan Subak sangat kuat. Air yang muncul dari "pusar" Kalawasan dipercaya sebagai anugerah Dewi Danu yang mengairi seluruh Bali. Tanpa menjaga kesucian Batur Kalawasan, masyarakat percaya air akan surut atau menjadi bencana.

 

e.      Kesimpulan: Harmoni Bali yang Utuh

Kaitan antara Kaldera Batur, Catur Kalawasan, dan Batur Kalawasan serta Sad Kerthi Lokas Bali adalah bukti nyata dari kearifan lokal dalam mengelola bentang alam. Konsep ini mengajarkan bahwa:

1.      Gunung (Batur) adalah sumber energi/api.

2.      Danau adalah sumber kehidupan/air.

3.      Kalawasan adalah ruang hidup manusia yang harus dijaga keseimbangannya.

Penyatuan dari semua konsep tersebut menciptakan apa yang kita sebut sebagai Harmoni Bali, di mana alam tidak dianggap sebagai objek eksploitasi, melainkan subjek yang disucikan dan dirawat melalui tatanan adat.

 

f.        Hubungan antara World Heritage (Danau Batur), Warisan tak benda (Tari Baris), dan Geopark Batur

 

Ketiganya  merupakan status di bawah UNESCO sebenarnya merupakan pertemuan dari tiga kategori penghargaan UNESCO yang berbeda namun saling melengkapi dalam satu ekosistem kebudayaan di Bali. Kawasan Batur BUGGp di Kintamani, Bali, merupakan titik temu unik di mana tiga kategori penghargaan UNESCO yang berbeda bersatu. Hubungan ketiganya bukan sekadar status administratif, melainkan satu kesatuan ekosistem budaya dan alam.

 

a)      Batur sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp)

Sejak tahun 2012, Kaldera Gunung Batur ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark pertama di Indonesia.

·         Peran Geopark ini adalah "payung" yang melindungi warisan geologi (seperti kawah purba dan aliran lava) bersama dengan kekayaan hayati dan budaya di dalamnya.

·         Hubungandengan Danau Batur adalah elemen utama dari Geopark ini. Pemanfaatan sumber daya dan keindahan alam di sini dikelola dengan prinsip keberlanjutan agar nilai ilmiah dan pariwisatanya tetap terjaga bagi dunia.

 

b)     Danau Batur dalam Warisan Dunia (World Heritage)

Secara terpisah Danau Batur juga diakui sebagai bagian dari Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy, yang ditetapkan sebagai World Heritage Site (WHS) pada tahun 2012.

·         Hubungannya dalam sistem Subak (irigasi tradisional Bali), Danau Batur adalah "Hulu" atau sumber air suci utama.

·         Pura Ulun Danu Batur yang berdiri megah di Kawasan BUGGp ini berfungsi sebagai pusat kontrol spiritual bagi aliran air ke seluruh sawah di Bali. Tanpa Danau Batur, sistem Subak yang diakui dunia ini tidak akan bisa berfungsi.

 

c)      Tari Baris sebagai Warisan Budaya Tak Benda (ICH)

Tari Baris (bagian dari Three Genres of Traditional Dance in Bali) diakui oleh UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH) pada tahun 2015.

·         Kaitan Spesifik: Di Desa Adat Batur, terdapat Tari Baris Gede yang sangat sakral. Tarian ini dipentaskan sebagai bagian dari ritual Ngusaba Kedasa di Pura Ulun Danu Batur.

·         Simbolisme: Tari Baris melambangkan prajurit suci yang mengawal dewa-dewi. Dalam konteks UNESCO, tarian ini adalah "warisan hidup" yang memberikan jiwa dan makna spiritual pada lanskap alam Geopark dan World Heritage Batur.

 

Tabel Sinergi Batur UNESCO

Kategori UNESCO

Objek/Tradisi

Hubungan Utama

Global Geopark

Kaldera & Danau Batur

Konservasi alam, geologi, dan edukasi lingkungan.

World Heritage

Danau & Pura Ulun Danu

Jantung sistem Subak dan sumber air bagi Bali.

Intangible Heritage

Tari Baris Gede

Ritual sakral yang menjaga hubungan manusia dengan Tuhan.

 

BAB I

KERAGAMAN GEOLOGI (GEODIVERSITY)

 

Keragaman Geologi atau yang sering disebut dengan Geodiversity adalah variasi atau keragaman komponen abiotik (benda tak hidup) yang ada di bumi. Jika keanekaragaman hayati (biodiversitas) membahas tentang makhluk hidup, maka keragaman geologi membahas tentang "panggung" atau pondasi tempat makhluk hidup itu berada di Kaldera Batur,

1.1.         Geologi mencakup beberapa poin utama berikut:

 

a.    Bentang Alam (Geomorphology)

Batur UGGp terletak di jalur Busur Volkanik Sunda, tempat bertemunya Lempeng Indo-Australia yang menunjam di bawah Lempeng Eurasia. Proses subduksi inilah yang memicu pelelehan batuan di kedalaman bumi, menciptakan kantong magma raksasa yang menjadi cikal bakal terbentuknya gunung api di Bali, termasuk Gunung Batur Ini mencakup bentuk fisik permukaan bumi. Di Batur UGGp, ini terlihat sangat jelas pada:

·         Kaldera Ganda: Adanya kaldera di dalam kaldera (Kaldera I dan Kaldera II) yang terbentuk dari letusan dahsyat masa lalu.

·         Gunung Api Aktif: Kerucut Gunung Batur yang berdiri gagah di tengah kaldera.

·         Danau Kaldera: Danau Batur yang berbentuk bulan sabit yang mengisi sebagian lantai kaldera.

·         Fondasi fisik Gunung Batur saat ini adalah hasil dari proses penghancuran diri yang megah. Struktur utamanya meliputi:

·         Gunung Batur Purba: Dahulu diperkirakan merupakan gunung api kerucut tunggal yang sangat tinggi.

·         Pembentukan Kaldera I (Luar): Terjadi sekitar 29.300 tahun lalu. Letusan dahsyat ini mengeluarkan sekitar 84 km³  material ignimbrit, menyebabkan puncak gunung runtuh dan menyisakan lubang raksasa berdiameter 13,8  x  10 km².

·         Pembentukan Kaldera II (Dalam): Terjadi sekitar 20.150 tahun lalu. Letusan kedua ini membentuk kaldera di dalam kaldera, yang kini dasarnya ditempati oleh Danau Batur dan Gunung Batur modern.

 


b.    Batuan (Lithology)

Variasi jenis batuan yang menceritakan sejarah masa lalu bumi. Contoh di Batur UGGp:

·         Batuan Beku (Lava): Seperti Black Lava (lava hitam) hasil letusan tahun 1849, 1888, hingga 1963.

·         Batuan Pirolastik: Endapan debu vulkanik, lapili, dan bom vulkanik yang terlempar saat letusan.

·         Ignimbrit: Batuan sisa aliran awan panas yang membeku, yang menjadi bukti kunci letusan pembentuk kaldera.

·         Ignimbrit Batur: Batuan hasil endapan arus piroklastik (awan panas) yang sangat tebal, terlihat jelas di dinding kaldera.

·         Lava Basaltis: Batuan beku berwarna gelap yang berasal dari aliran lava gunung aktif saat ini.

·         Tufa: Abu vulkanik yang mengeras, sering digunakan masyarakat lokal sebagai bahan ukiran pura.

c.    Struktur Geologi

Ini adalah bentuk-bentuk yang dihasilkan oleh gaya tektonik atau aktivitas vulkanik, seperti:

·         Sesar (Patahan): Rekahan pada dinding kaldera yang menunjukkan bagaimana tanah runtuh saat letusan besar.

·         Dinding Kaldera (Rim): Tebing melingkar yang mengelilingi kawasan Kintamani.

d.    Proses Geologi

Proses yang terus berjalan hingga saat ini, baik dari dalam bumi (endogen) maupun luar bumi (eksogen):

·         Vulkanisme: Aktivitas magma, hembusan uap di kawah (solfatara), dan mata air panas.

·         Hidrologi: Bagaimana air hujan meresap ke dalam batuan vulkanik dan muncul kembali sebagai mata air di kaki gunung atau mengisi danau.

1.2.        Mengapa Keragaman Geologi itu Penting

Dalam konsep UNESCO Global Geopark, keragaman geologi adalah dasar dari segalanya:

1.      Menentukan Kehidupan (Biodiversity): Jenis tanah dari abu vulkanik menentukan tanaman apa yang bisa tumbuh (seperti jeruk Kintamani atau pohon kemenyan).

2.      Membentuk Budaya (Cultural Diversity): Manusia membangun pura menggunakan batu lava, dan menyembah gunung karena kekuatan geologinya yang dahsyat.

3.      Sumber Daya: Menyediakan air (Danau Batur), material bangunan (batu basalt), dan energi panas bumi.

Jika bumi adalah sebuah teater, maka Keragaman Geologi adalah bangunannya, panggungnya, dan tata cahayanya. Tanpa panggung ini, para aktor (makhluk hidup) tidak memiliki tempat untuk beraksi.

4.    Danau Batur: Reservoar Alami

Secara fisik, Danau Batur terbentuk di bagian terendah kaldera akibat akumulasi air hujan dan rembesan air tanah. Danau berbentuk bulan sabit ini memiliki kedalaman maksimum sekitar 88 meter dan berfungsi sebagai "jantung" hidrologi bagi pulau Bali.

 

a.  Arsitektur Kaldera: Sang Mahakarya Ganda

Batur UGGp dikenal di dunia internasional karena memiliki struktur Kaldera Ganda (Double Caldera) yang sangat sempurna. Secara visual, ini adalah "stadion alam" yang megah.

·         Kaldera Luar (Kaldera I): Memiliki dimensi raksasa  13,8 Km x 10 Km. Pematang kaldera ini terlihat jelas dari Panel Dinding Kintamani hingga ke Panel Penulisan.

·         Kaldera Dalam (Kaldera II): Terbentuk di dalam kaldera pertama dengan diameter 7 km. Bentuknya yang melingkar sempurna menciptakan cekungan yang kini menjadi rumah bagi Gunung Batur aktif dan Danau Batur.

·         Lantai Kaldera: Berada pada ketinggian sekitar 1.000 mdpl, menciptakan iklim mikro yang sejuk dan berbeda dengan pesisir Bali.

 

b.  Laboratorium Vulkanologi: Rekam Jejak Aktivitas Bumi

Batur UGGP adalah museum hidup bagi para ilmuwan dan pelajar. Di sini, kita bisa mempelajari siklus hidup gunung api secara lengkap dalam satu lokasi:

·            Tipe Letusan: Menunjukkan transisi dari letusan dahsyat (Plinian) yang membentuk kaldera, hingga letusan efusif (aliran lava) yang membangun kerucut gunung api baru.

·            Variasi Produk Vulkanik: Di sini terdapat berbagai jenis batuan mulai dari Ignimbrit (endapan awan panas), Scoria, hingga Bom Vulkanik.

·            Pemantauan Aktif: Adanya pos pengamatan gunung api yang memantau aktivitas seismik, suhu kawah, dan emisi gas secara real-time, menjadikan Batur tempat belajar manajemen risiko bencana vulkanik.

 

c.     Dinamika Hidrologi: "The Water Tower" bagi Pulau Bali

Secara fisik, Kaldera Batur berfungsi sebagai cawan raksasa yang menangkap dan menyimpan air.

·            Danau Batur: Merupakan danau kaldera terbesar di Bali. Danau ini tidak memiliki sungai yang mengalir keluar di permukaan, namun airnya meresap melalui batuan vulkanik yang berpori (porous).

·            Sistem Sungai Bawah Tanah: Air dari Danau Batur merembes ke arah selatan dan muncul kembali sebagai ratusan mata air (umbul) di wilayah dataran rendah seperti Gianyar, Bangli, dan Klungkung.

·            Keseimbangan Ekosistem: Dinamika air ini adalah urat nadi bagi sistem Subak. Tanpa geologi kaldera yang unik ini, sebagian besar lahan pertanian di Bali selatan akan kehilangan sumber air utamanya.

 

d.     Lanskap Pasca-Letusan: Kanvas Hitam di Dasar Kaldera

Setelah letusan-letusan besar mereda, Batur meninggalkan bentang alam yang dramatis dan kontras.

·            Black Lava (Lava Hitam): Hamparan batu hitam pekat hasil letusan tahun 1849, 1926, dan 1963. Struktur lavanya bervariasi antara Lava Aa (kasar dan tajam) serta Lava Pahoehoe (halus dan bergelombang seperti tali).

·            Gundukan Pasir Vulkanik: Area yang tertutup abu dan pasir vulkanik menciptakan pemandangan menyerupai permukaan bulan (lunar landscape).

·            Suksesi Alami: Fenomena luar biasa di mana kehidupan (lumut, paku-pakuan, dan pohon pinus) perlahan-lahan mulai tumbuh di sela-sela batu lava yang gersang, menunjukkan bagaimana alam menyembuhkan dirinya sendiri.

·            Sejarah Pembentukan: Proses letusan dahsyat purba yang membentuk Kaldera I dan Kaldera II.

 

 

1.3.    Kronologi Kelahiran Sang Raksasa

 

Sejarah pembentukan Kaldera Batur adalah rangkaian peristiwa geologi dahsyat yang dikenal sebagai letusan "Ignimbrit Batur". Proses ini tidak terjadi sekali, melainkan melalui beberapa siklus keruntuhan gunung api.

 

a.    Fase-Fase Letusan Gunung Batur

Fase 1: Gunung Batur Purba (Pre-Caldera)

Sekitar ratusan ribu tahun yang lalu, di lokasi ini berdiri sebuah gunung api kerucut tunggal yang sangat besar (stratovulkan). Gunung ini tersusun dari tumpukan lava dan abu hasil letusan berkala, dengan ketinggian yang jauh melampaui puncak Batur saat ini. Di bawahnya, sebuah kantong magma raksasa terus terisi dan membangun tekanan yang luar biasa.

 

Fase 2: Letusan Dahsyat & Terbentuknya Kaldera I (29.300 Tahun Lalu)

Ini adalah peristiwa yang mengubah wajah Bali selamanya.

·         Proses: Tekanan magma yang tak terbendung memicu letusan Plinian yang sangat ekslosif.

·         Dampak: Memuntahkan sekitar 84 km³ material ke angkasa. Arus piroklastik (awan panas) yang sangat masif mengalir ke segala arah, menutupi sebagian besar Pulau Bali (sekarang dikenal sebagai lapisan Ignimbrit Batur).

·         Hasil: Karena kantong magma kosong secara mendadak, puncak gunung runtuh ke bawah membentuk lubang raksasa berukuran 13,8 x 10 km. Inilah yang kita kenal sebagai Kaldera Luar.

 

Fase 3: Letusan Kedua & Terbentuknya Kaldera II (20.150 Tahun Lalu)

Setelah masa tenang selama ribuan tahun, aktivitas vulkanik kembali meningkat di dalam dasar kaldera yang baru terbentuk.

·       Proses: Terjadi letusan besar kedua yang berpusat di tengah Kaldera I. Letusan ini mengeluarkan material sebanyak 19 km³

·       Hasil: Runtuhnya lantai kaldera untuk kedua kalinya, menciptakan cekungan melingkar yang lebih kecil di bagian tengah dengan diameter sekitar 7 km. Struktur inilah yang menjadikan Batur sangat unik di mata dunia sebagai Kaldera Ganda.

 

 

Fase 4: Lahirnya Gunung Batur Modern & Danau Batur

Setelah kaldera ganda terbentuk, alam mulai menata ulang dirinya:

·         Gunung Batur (Post-Caldera): Aktivitas vulkanik kecil yang terus menerus membangun kerucut baru di tengah kaldera, yang kita kenal sekarang sebagai Gunung Batur (1.717 mdpl).

·         Danau Batur: Air hujan dan air tanah mulai mengisi bagian terendah di sisi tenggara Kaldera II, membentuk danau berbentuk bulan sabit yang menjadi jantung hidrologi Bali.

1.4.     Situs Warisan Geologi (Geosite): Monumen Alam Batur

 

Geosite adalah titik-titik lokasi yang memiliki nilai geologi tinggi dan menjadi bukti kunci sejarah bumi. Di kawasan Batur, terdapat tiga geosite utama yang menjadi ikon bagi para pengunjung:

Fase Letusan Gunung Batur

 

 

A. Lava Hitam (Black Lava): Hamparan Samudra Batu

Lava Hitam adalah saksi bisu dari letusan efusif Gunung Batur, terutama yang terjadi pada tahun 1849, 1926, dan 1963.

·         Karakteristik Fisik: Berupa hamparan batuan basal berwarna hitam pekat yang menutupi lantai kaldera. Di sini, pengunjung dapat melihat tekstur Lava Aa yang tajam dan bongkahan-bongkahan besar yang tercipta saat lava mendingin secara mendadak.

·         Nilai Penting: Situs ini merupakan laboratorium suksesi ekologi. Di atas batu yang gersang ini, lumut dan tanaman perintis mulai tumbuh, menunjukkan bagaimana kehidupan mulai merekolonisasi lahan vulkanik yang baru. Bagi wisatawan, kontras warna hitam lava dengan latar hijau dinding kaldera menciptakan lanskap fotogenik yang dramatis.

Sebanyak 21 geosite yang ditetapkan UNESCO yakni sebagai berikut:

1.      BGS-01. Outer-Caldera (Penulisan/Batur Purba Caldera);

2.      BGS-02. Inner-Caldera (Batur Caldera)

3.      BGS-03. Cone-I of Batur;

4.      BGS-04. Cone-II of Batur;

5.      BGS-05. Cone-III of Batur

6.      BGS-06. Parasitic cone of Mt. Abang;

7.      BGS-07. Cinder cone of Payang Hill;

8.      BGS-08. Cinder cone of Dalam Hill;

9.      BGS-09. Cinder cone of Bunbulan Hill;

10.   BGS-10. Cinder cone of Southern Yehmampeh;

11.   BGS-11. Landslide of Puraknya Hill;

12.   BGS-12. Lava flows 1849;

13.   BGS-13. Lava flows 1888;

14.   BGS-14. Lava flows 1904;

15.   BGS-15. Lava flows 1905;

16.   BGS-16. Lava flows 1921;

17.   BGS-17. Lava flows 1926;

18.   BGS-18. Lava flows 1963;

19.   BGS-19. Lava flows 1968;

20.   BGS-20. Lava flows 1974; dan

21.   BGS-21. Batur Lake.

 

Sedangkan 13 geofeature yang terdapat di kawasan Geopark Batur yaitu:

1.      BGF-02. Aa lavas;

2.      BGF-03. Clinker or slag;

3.      BGF-04. Vesicular and scoreaceous lavas;

4.      BGF-05. Spatter cones, hornitoes, tumuli, and driblet spires;

5.      BGF-06. Lava pipe and lava spiracle;

6.      BGF-07. Lava balls (accretionary lava balls or snowball lava) and slab;

7.      BGF-08. Pillow lavas and bolster lavas;

8.      BGF-09. Lava toes or pahoehoe toes and lava talus

9.      BGF-10. Lava talus;

10.   BGF-11. Lava tubes or lava tunnels;

11.   BGF-12. Lava stalactites; dan

12.   BGF-13. Lava steptoe;

 

 

 

Sedangkan untuk geoevidence dengan rincian sebagai berikut:

1.      BGE-1. Tephra or airfall pyroclastic deposit;

2.      BGE-2. Ignimbrite or welded acid tuff; dan

3.      BGE-3. Volcanic landslides or mass movements.

 

 

B. Gunung Batur: Sang Jantung yang Masih Berdenyut

Gunung Batur (1.717 mdpl) adalah gunung api aktif yang tumbuh di pusat kaldera (Gunung Api Pasca-Kaldera).

·         Karakteristik Fisik: Gunung ini memiliki tiga kawah utama yang sejajar (Kawah I, II, dan III) yang terbentuk dari migrasi titik letusan. Di puncaknya, pengunjung masih bisa melihat hembusan uap panas (fumarola) dan mencium bau belerang (solfatara).

·         Nilai Penting: Menjadi pusat edukasi vulkanologi primer. Gunung ini menunjukkan proses "pembangunan kembali" sebuah gunung api setelah keruntuhan masif di masa purba. Pendakian menuju puncaknya memberikan perspektif 360 derajat mengenai struktur kaldera ganda yang sempurna.

 

C. Danau Batur: Bulan Sabit Biru di Jantung Kaldera

Danau Batur adalah danau kaldera terbesar di Bali, mengisi cekungan di sisi tenggara Kaldera II.

·         Karakteristik Fisik: Berbentuk bulan sabit dengan luas permukaan sekitar 16 Km² . Air danau ini berasal dari air hujan dan rembesan air tanah melalui dinding kaldera.

·         Nilai Penting: Secara geologi, danau ini bertindak sebagai jendela hidrogeologi. Meskipun tidak memiliki sungai yang mengalir keluar di permukaan, air danau merembes melalui batuan vulkanik bawah tanah menuju mata air di wilayah selatan Bali. Danau ini adalah pilar utama kehidupan bagi ribuan petani yang bergantung pada sistem irigasi Subak.

1.5.   Bentang Alam (Landforms): Anatomi Raksasa Kintamani

 

Morfologi Kawasan Batur bukan sekadar pemandangan indah, melainkan hasil dari pertarungan abadi antara kekuatan endogen (tekanan magma dari dalam bumi) dan kekuatan eksogen (pelapukan dan erosi). Secara garis besar, bentang alam Batur UGGp terbagi menjadi empat zona morfologi utama:

1.  Dinding Pematang Kaldera (The Rim)

Ini adalah fitur morfologi paling menonjol yang melingkari kawasan.

·         Karakteristik: Berupa tebing curam yang membatasi dataran tinggi Kintamani dengan dasar kaldera. Ketinggian dinding ini bervariasi, dengan titik tertinggi berada di Penulisan.

·         Perspektif Visual: Jika dilihat dari atas, pematang ini membentuk struktur "stadion raksasa". Dinding ini merupakan sisa-sisa gunung api purba yang tidak ikut runtuh saat letusan dahsyat ribuan tahun silam.

2.  Lantai Kaldera (The Caldera Floor)

Dasar dari cekungan raksasa yang terletak ratusan meter di bawah pematang.

·         Karakteristik: Morfologinya tidak rata; sebagian besar tertutup oleh aliran lava yang membeku dan material piroklastik.

·         Keunikan: Lantai kaldera ini terbagi menjadi dua area besar: sisi barat yang didominasi oleh daratan vulkanik (Gunung dan Lava), serta sisi timur yang merupakan depresi dalam berisi air (Danau).

3.  Kerucut Vulkanik Pasca-Kaldera (The Central Cone)

Sebuah gunung baru yang tumbuh di tengah-tengah reruntuhan gunung lama.

·         Karakteristik: Memiliki morfologi kerucut (stratovulkan) yang masih berkembang. Lerengnya sangat curam dan tertutup oleh material lepas (pasir dan kerikil vulkanik).

·         Fitur Kawah: Di puncaknya terdapat morfologi kawah yang kompleks (multikawah). Garis-garis punggungan kawah menunjukkan arah pergeseran titik letusan dari waktu ke waktu.

 

4.  Depresi Danau (The Lacustrine Basin)

Cekungan rendah yang berfungsi sebagai penampung air alami.

·         Karakteristik: Berada di sisi tenggara, morfologi ini berbentuk seperti bulan sabit yang mengikuti lengkungan dinding kaldera luar.

·         Interaksi Alam: Tepian danau memiliki morfologi yang landai di beberapa titik (seperti di Desa Kedisan dan Toya Bungane), yang kemudian dimanfaatkan manusia sebagai area pemukiman dan pertanian.

 

Tabel Ringkasan Morfologi

Fitur Morfologi

Deskripsi Bentuk

Fungsi/Peran

Pematang (Rim)

Tebing tinggi melingkar

Batas perlindungan alam dan area pandang (viewpoint).

Kerucut (Cone)

Gunung api aktif di Tengah

Pusat aktivitas vulkanik dan magnet wisata pendakian.

Aliran Lava

Hamparan batuan hitam bergerigi

Rekam jejak sejarah letusan dan objek edukasi batuan.

Cekungan Danau

Perairan dalam berbentuk sabit

Reservoar air dan penyeimbang iklim mikro kawasan.

 


BAB II

KERAGAMAN BIOLOGI (BIODIVERSITY)

 

Keragaman Biologi atau Biodiversitas (Biodiversity) adalah variasi dari segala bentuk kehidupan yang ada di suatu wilayah. Jika Keragaman Geologi adalah "panggungnya", maka Keragaman Biologi adalah "para aktornya".  Dalam ekosistem Kaldera Batur, keragaman biologi menjelaskan bagaimana makhluk hidup   (tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme) bertahan hidup, beradaptasi, dan berkembang di atas tanah vulkanik yang dinamis.

 

2.1. Keragaman Flora dan Fauna

 

a.    Keragaman Spesies (Flora & Fauna)

Ini mencakup semua jenis makhluk hidup yang menghuni kaldera.

·         Flora (Tumbuhan): Di Batur UGGp,  bisa menemukan tanaman yang sangat tangguh. Contohnya adalah Cemara Gunung (Casuarina junghuhniana) yang bisa hidup di tanah berbatu, serta pohon Taru Menyan yang hanya ada di Desa Terunyan.

·         Fauna (Hewan): Meliputi berbagai jenis burung (seperti Elang Ular Bido), primata (Kera Abu-abu), dan biota air di Danau Batur (seperti Ikan Mujair yang sudah beradaptasi dengan kandungan sulfur dan mineral danau).

b.    Keragaman Ekosistem (Rumah bagi Kehidupan)

Batur UGGp memiliki variasi ekosistem yang unik karena perbedaan ketinggian dan kondisi tanah:

·         Ekosistem Lahan Lava: Lahan gersang sisa letusan yang perlahan mulai ditumbuhi lumut dan paku-pakuan (proses suksesi).

·         Ekosistem Hutan Pegunungan: Hutan lebat di dinding kaldera yang menjaga kelembapan udara.

·         Ekosistem Danau: Lingkungan air tawar di ketinggian 1.000 mdpl yang menjadi sumber kehidupan.

c.    Keragaman Genetik

Ini adalah variasi di dalam satu spesies. Contohnya adalah varietas Jeruk Kintamani atau Kopi Arabika Batur. Karena tumbuh di ketinggian dan tanah vulkanik yang spesifik, jeruk dan kopi dari Batur UGGp memiliki rasa dan karakter yang berbeda dari tempat lain.

 

2.2. Mengapa Keragaman Biologi Penting di Geopark Batur

 

1.      Fungsi Ekologis: Hutan di sekeliling kaldera berfungsi sebagai penyerap air hujan yang kemudian masuk ke cadangan air bawah tanah (yang diisi oleh Danau Batur).

2.      Keseimbangan Alam: Burung-burung pemangsa membantu mengendalikan hama, sementara serangga membantu penyerbukan tanaman pertanian warga.

3.      Hubungan dengan Budaya: Banyak tumbuhan digunakan dalam upacara adat Bali. Misalnya, bunga-bungaan untuk sesaji atau kayu tertentu untuk bangunan pura.

4.      Keajaiban Adaptasi: Batur UGGp menunjukkan "keajaiban" di mana kehidupan bisa tumbuh kembali dari tanah yang tadinya mati karena lava panas (suksesi primer).

 

2.3.    Flora Khas: Pionir di Tanah Vulkanik

 

Vegetasi di kawasan Batur UGGp adalah simbol ketangguhan. Mereka tumbuh di antara celah batu lava yang minim nutrisi hingga hutan lembap di lereng pematang.

·         Vegetasi Pionir (Lahan Lava): Di atas Black Lava, kehidupan dimulai dari Lumut Kerak (Lichen) dan Paku-pakuan. Mereka memecah batu menjadi tanah secara perlahan.

·         Hutan Pegunungan: Di zona pematang kaldera yang lebih tua, tumbuh pohon-pohon seperti Cemara Gunung (Casuarina junghuhniana) dan Ampupu (Eucalyptus urophylla).

·       Tanaman Endemik & Lokal: Keberadaan pohon Kemenyan (Styrax) dan berbagai jenis anggrek hutan yang tumbuh subur di wilayah hutan lindung sekitar kaldera.

 

2.4.   Fauna: Penghuni Kaldera dan Penjaga Ekosistem

 

Meskipun aktivitas vulkanik terus berlangsung, Batur UGGp tetap menjadi rumah bagi berbagai spesies yang telah beradaptasi:

·         Primata: Kera Abu-abu (Macaca fascicularis) sering dijumpai di sekitar pura dan tebing-tebing curam, menjadi bagian dari daya tarik wisata sekaligus penjaga keseimbangan hutan.

·         Avifauna (Burung): Kawasan ini adalah habitat bagi Elang Ular Bido, Cekakak Sungai, dan berbagai burung madu. Danau Batur juga menjadi tempat singgah bagi burung-burung migran.

·         Biota Air Danau: Danau Batur memiliki spesies asli seperti Ikan Mujair (yang telah menjadi ikon kuliner lokal) serta berbagai mikroorganisme air yang mendukung rantai makanan di danau kaldera yang dalam.

 

2.5.    Ekosistem Unik: Keajaiban Adaptasi (Dari Tandus ke Hijau)

 

Bagian paling menarik dari biodiversitas Batur adalah proses Suksesi Alami. Ini adalah perjalanan waktu di mana lahan mati berubah menjadi hutan:

1.   Zona Gersang (Lava Muda): Dominasi batuan hitam, suhu ekstrem saat siang hari, sangat sedikit air.

2.   Zona Transisi: Munculnya semak belukar dan rumput yang mulai menahan kelembapan tanah.

3.   Zona Hutan Hijau: Di bekas aliran lava yang lebih tua (seperti letusan 1849), kini telah terbentuk hutan kecil yang rimbun.

·     Fenomena Adaptasi: Akar tanaman di Batur UGGp memiliki kemampuan menembus celah batu lava yang keras untuk mencari mineral dan air, menciptakan struktur akar yang kuat dan eksotis.

 

2.6    Flora Endemik dan Ikonik Kaldera Batur

 

Kehidupan tumbuhan di Kaldera Batur adalah simbol ketangguhan. Di atas tanah yang pernah hangus oleh lava, kehidupan muncul kembali melalui proses adaptasi yang luar biasa. Berikut adalah flora utama yang menjadi identitas kawasan ini:

1. Taru Menyan (Protorhus ditigata) – Sang Penawar Bau

Pohon ini adalah ikon biokultur paling penting di Desa Terunyan.

·     Karakteristik Ilmiah: Pohon ini termasuk spesies langka yang tumbuh subur di pinggir Danau Batur. Akarnya menghujam ke sela-sela batuan lava purba.

·     Keunikan: Mengeluarkan aroma wangi yang sangat kuat. Nama "Terunyan" sendiri berasal dari kata Taru (pohon) dan Menyan (harum).

·     Fungsi Ekofilosofi: Masyarakat menggunakannya untuk menetralkan bau jenazah dalam tradisi pemakaman Mepasah. Secara biologis, pohon ini menunjukkan bagaimana tumbuhan dapat memiliki nilai sosioreligius yang tinggi.

2. Cemara Gunung (Casuarina junghuhniana) – Pionir Lahan Vulkanik

Cemara Gunung adalah pahlawan dalam proses penghijauan kembali (reboisasi) alami di lereng Gunung Batur.

·     Karakteristik Ilmiah: Tumbuhan ini merupakan spesies pionir yang mampu tumbuh di lahan marginal atau tanah yang minim nutrisi (seperti pasir vulkanik dan lapili).

·     Adaptasi: Daunnya berbentuk seperti jarum untuk mengurangi penguapan di daerah pegunungan yang berangin kencang dan dingin.

·     Peran Geopark: Akar cemara gunung membantu mengikat butiran pasir vulkanik, sehingga mencegah erosi dan longsor pada dinding kaldera.

3. Paku-pakuan dan Lumut – Perintis Kehidupan di Atas Lava

Di atas hamparan Black Lava (Lava Hitam) hasil letusan tahun 1963 atau 1974, kita dapat melihat proses Suksesi Primer.

·     Lumut Kerak (Lichen): Organisme pertama yang memecah mineral keras pada batu lava menjadi tanah organik.

·     Paku Resam (Gleichenia linearis): Tumbuhan paku yang mulai menjajah celah-celah batu lava yang mulai melapuk. Mereka adalah bukti bahwa "tanah mati" perlahan berubah menjadi ekosistem yang produktif.

4.   Kopi Arabika Kintamani – Geografi dan Rasa

Meskipun merupakan tanaman budidaya, Kopi Kintamani telah mendapatkan perlindungan Indikasi Geografis (IG) karena karakter biologisnya yang unik.

·         Faktor Geologi: Tumbuh di ketinggian >1.000 mdpl pada tanah vulkanik yang kaya unsur hara makro.

·         Kaitan Budaya: Ditanam dengan sistem tumpang sari bersama jeruk, yang secara tidak langsung memberikan aroma sitrus pada biji kopinya. Ini adalah contoh nyata bagaimana manusia (Budaya) mengelola potensi alam (Biologi & Geologi).

 

2.7.  Kaitan Ekologis: Mengapa Mereka Ada di Batur

 

Flora di Batur tidak tumbuh secara acak. Kehadiran mereka ditentukan oleh:

1.      Suhu Udara: Rata-rata 15°C – 22°C yang ideal untuk jenis pegunungan.

2.      Porositas Tanah: Kemampuan tanah pasir vulkanik mengalirkan air dengan cepat.

3.      Kandungan Mineral: Tingginya unsur sulfur dan mineral mikro hasil pelapukan lava.

 

 

Tabel: Karakteristik Flora & Fauna Berdasarkan Zona

Zona Morfologi

Contoh Flora Utama

Contoh Fauna Utama

Puncak Gunung

Rumput, Lumut, Cemara Gunung

Burung Madu, Serangga

Lantai Lava Hitam

Lumut Kerak, Paku Ekor Kuda

Kadal, Burung Gereja

Tepian Danau

Eceng Gondok, Ganggang

Ikan Mujair, Burung Kuntul

Hutan Pematang

Ampupu, Kemenyan, Anggrek

Kera Abu-abu, Elang

 

  

BAB III

KERAGAMAN BUDAYA (CULTURAL DIVERSITY)

 

3.1.        Keragaman Budaya (Cultural Diversity) – "The Play"

 

Keragaman Budaya atau Cultural Diversity di kawasan Kaldera Batur adalah sekumpulan tradisi, sistem sosial, kepercayaan, dan hasil karya manusia yang lahir dari interaksi panjang dengan lingkungan vulkanik yang unik. Di Batur UGGp, budaya bukan sekadar tarian atau upacara, melainkan strategi bertahan hidup dan cara masyarakat menghormati kekuatan geologi (Gunung dan Danau). Berikut adalah pilar-pilar utama Keragaman Budaya di Kawasan Batur UGGp :

1.    Masyarakat Bali Aga (Bali Mula)

 

Berbeda dengan masyarakat Bali dataran yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Majapahit, di dalam kaldera (terutama Kawasan Wingkang Ranu) terdapat masyarakat Bali Aga.

·         Keunikan: Mereka memiliki tatanan desa yang sangat kuno, dialek bahasa yang berbeda, dan sistem kepemimpinan tradisional yang disebut Hulu Apad. Sistem Kepemimpinan Hulu Apad Masyarakat di desa-desa tua sekitar Batur UGGp  menggunakan sistem sosial yang sangat kuno.

-            Struktur: Kepemimpinan tidak ditentukan oleh keturunan atau kekayaan, melainkan berdasarkan senioritas usia perkawinan.

-            Kaitan Geopark: Sistem ini menjaga ketertiban masyarakat dalam mengelola tanah-tanah adat di lereng gunung agar tidak rusak.

·         Memiliki rumah khas tradisional yang memiliki sake banyak umah tradisional Saka 12 merupakan salah satu bentuk arsitektur khas masyarakat Bali Aga, seperti yang terdapat di Desa Terunyan. Nama "Saka 12" merujuk pada jumlah tiang (saka) penyangga utama bangunan yang berjumlah dua belas buah

·         Tradisi Mepasah: Salah satu keragaman budaya paling ikonik di dunia, di mana jenazah tidak dikubur atau dibakar, melainkan diletakkan di bawah pohon Taru Menyan. Ini adalah bentuk adaptasi budaya terhadap keberadaan flora endemik.

·         Seni Tari Sakral: Adanya tarian kuno seperti Barong Brutuk, yang kostumnya terbuat dari serat daun pisang kering (kraras) yang diambil dari lingkungan sekitar, melambangkan pemujaan terhadap leluhur penjaga danau.

 

 

2.      Teologi Air dan Danu Kerthi

 

Geologi danau yang menjadi sumber air utama bagi Pulau Bali melahirkan sistem kepercayaan yang sangat kuat. Pura Ulun Danu dan Pura Hulun Danu merupakan pusat dari seluruh tata Kelola air di Bali

·         Pura Ulun Danu Batur dan Pura Hulun Danu Songan : Merupakan salah satu pura terpenting di Bali (Pura Jagatnatha). Masyarakat percaya bahwa Dewi Danu adalah penguasa danau yang memberikan kemakmuran berupa air.

·         Teologi Air: Danau sebagai Ibu Kandung Interaksi paling krusial terjadi melalui pengelolaan air. Masyarakat memandang Danau Batur bukan sebagai komoditas, melainkan sebagai "Daratan Suci" yang menyediakan kehidupan bagi seluruh Bali

·         Ritual Pakelem: Upacara melarung sesaji ke tengah danau atau kawah gunung sebagai bentuk permohonan keseimbangan alam. Ini adalah bukti bagaimana manusia berdialog dengan kekuatan alam (vulkanisme).

·         Ritual Pakelem di Kawah Puncak Gunung Batur

 

3.       Sistem Subak dan Kaitan Lintas Wilayah

 

Meskipun lahan di Batur UGGp sebagian besar berupa ladang kering, namun "jiwa" dari sistem irigasi Bali (Subak) ada di sini. Sistem Subak: Kaitan antara ketersediaan air dari Danau Batur dengan pertanian di Bali (Batur sebagai Water Tower).

mengapa Danau Batur disebut sebagai "Jantung Pulau Bali". Tanpa sistem hidrologi Danau Batur, peradaban pertanian Bali yang kita kenal melalui Subak tidak akan pernah ada

·            Koneksi Budaya: Petani dari seluruh Bali (hilir) datang ke Batur UGGp (hulu) untuk memohon air. Hal ini menciptakan jaringan sosial-budaya yang luas yang menghubungkan gunung dengan laut (Nyegara-Gunung).

·            Masyarakat membangun struktur organisasi spiritual yang mengoordinasikan (Subak) distribusi air ke wilayah hilir (Gianyar, Bangli, Klungkung, hingga Badung).

·            Ritual Mapag Toya: Selama berabad-abad, petani dari berbagai penjuru Bali datang ke Batur untuk "menjemput air" secara spiritual, yang secara praktis memastikan koordinasi fisik saluran irigasi tetap terjaga.

·            Dalam filosofi masyarakat Bali, Gunung Batur diakui sebagai Purusartha atau sumber kehidupan. Secara ilmiah dan kultural, keterkaitan antara ketersediaan air di Danau Batur dengan kemakmuran sawah-sawah di Bali dapat dijelaskan melalui tiga aspek utama:

·            Fenomena Hidrogeologi: Reservoar di Atas Langit

Secara geografis, Danau Batur terletak di ketinggian sekitar 1.031 mdpl. Berbeda dengan danau pada umumnya yang mengalirkan air melalui sungai permukaan, Danau Batur berfungsi sebagai waduk raksasa yang menyerap air hujan dan menyimpannya di dalam batuan vulkanik yang porus (berpori).

·         Resapan Bawah Tanah: Air dari danau merembes melalui celah-celah batuan lava dan keluar kembali sebagai ratusan mata air (umbul) di wilayah dataran rendah seperti Bangli, Gianyar, Klungkung, hingga Badung.

·         Hulu Semua Sungai: Sebagian besar sungai besar di Bali (seperti Sungai Ayung dan Sungai Pekerisan) memiliki akar hidrologi yang terhubung dengan daerah tangkapan air di Kaldera Batur.

 

Kesuburan dan Keberlanjutan (Batur sebagai Water Tower)

Istilah "Water Tower" disematkan karena Kaldera Batur bertindak layaknya menara air raksasa yang mendistribusikan keberkahan ke seluruh pulau:

·         Penyaring Alami: Batuan vulkanik di dasar kaldera berfungsi sebagai filter alami yang membersihkan air, sehingga mata air yang muncul di hilir memiliki kualitas yang sangat jernih dan kaya mineral.

·         Kemandirian Pangan: Ketersediaan air yang stabil dari Batur memungkinkan petani Bali melakukan penanaman padi sepanjang tahun, yang menjadi fondasi ketahanan pangan dan budaya Bali.

·         Filosofi Tri Hita Karana di Batur: Hubungan ini adalah manifestasi nyata dari keharmonisan antara Manusia (Petani Subak), Alam (Danau Batur sebagai Geologi), dan Tuhan (Dewi Danu sebagai simbol manifestasi Tuhan penjaga air).

 

4.      Arsitektur dan Pemanfaatan Batu Lava serta berbasis Mitigas

 

Kearifan lokal dalam menggunakan material alam sekitar adalah bentuk keragaman budaya fisik, dan Budaya masyarakat Batur UGGp tercermin dalam cara mereka membangun ruang hidup

·            Seni Pahat Batu: Masyarakat Batur ahli dalam mengolah batu basalt (lava hitam) menjadi ukiran pura yang megah. Penggunaan batu hitam ini menjadi ciri khas arsitektur Kintamani yang terlihat lebih "mistis" dan kokoh dibandingkan pura di Bali Selatan yang menggunakan batu padas.

·            Pindah Desa (Relokasi): Sejarah perpindahan desa pasca letusan 1926 menciptakan tradisi gotong royong yang kuat. Tata letak desa baru tetap mempertahankan pola linear yang menghadap ke arah Gunung Batur (Kaja).

·            Penggunaan Batu Basalt: Pemanfaatan material vulkanik untuk ukiran pura dan fondasi bangunan menciptakan estetika arsitektur yang sangat khas "Batur" (didominasi warna hitam abu-abu yang megah).

5.      Legenda dan Mitologi (Oral History)

 

Cerita rakyat seperti Kebo Iwa yang dikaitkan dengan terbentuknya Danau Batur, atau mitos tentang asal-usul Gunung Batur, adalah cara masyarakat menjelaskan fenomena geologi melalui bahasa budaya. Mitologi ini berfungsi sebagai alat edukasi bagi generasi muda untuk menghormati alam sekitar.

·            Mitologi Dewi Danu (Sang Penguasa Air)

Secara spiritual, Danau Batur dianggap sebagai sumber kesuburan bagi seluruh Pulau Bali. Manifestasi Kesuburan: Dewi Danu  dipuja sebagai penguasa danau dan air. Beliau dianggap sebagai salah satu dari Sang Hyang Tri Purusha (bersama Sang Hyang Gnijaya di Gunung Agung dan Sang Hyang Putrajaya di Gunung Lempuyang). Keberadaan sistem irigasi Subak di Bali sangat bergantung pada restu di Pura Ulun Danu Batur dan Pura Hulun Danu Songan. Tradisi lisan menyebutkan bahwa air dari Danau Batur mengalir melalui terowongan bawah tanah menuju sumber-sumber air di seluruh Bali.

 

·        Legenda Raja Jaya Pangus dan Kang Ching Wie (sering disebut Kancing Wei) adalah salah satu kisah cinta paling tragis sekaligus ikonik dalam mitologi Bali, khususnya di kawasan Batur. Kisah ini menjelaskan asal-usul budaya akulturasi Tionghoa-Bali dan sosok Barong Landung.

 

·        Pohon Taru Menyan: Legenda menyebutkan adanya pohon harum (Taru Menyan) yang baunya sangat menyengat hingga tercium ke tanah Jawa. Seorang pangeran dari Surakarta mencari sumber bau tersebut dan akhirnya menetap di sana setelah bertemu dengan dewi penunggu pohon tersebut

 

·        Mitologi Pemindahan Puncak Mahameru Dalam teks kuno Lontar Usana Bali, terdapat mitologi mengenai penataan Pulau Bali oleh Batara Pasupati, yang dikisahkan dahulu Pulau Bali tidak stabil dan terus bergoyang. Batara Pasupati kemudian memotong puncak Gunung Mahameru di India menjadi dua bagian yang digunakan untuk menstabilkan Pulau Bali. Bagian yang lebih besar menjadi Gunung Agung, dan bagian yang lebih kecil menjadi Gunung Batur sebagai tempat persemayaman para dewa untuk menjaga keseimbangan spiritual dan fisik pulau tersebut.

 

·        Hubungan Rwa Bhineda: Harmoni Dua Kutub

 

Konsep filosofis Rwa Bhineda (keseimbangan dua hal yang berlawanan) terlihat nyata di Batur UGGp:

1.      Gunung (Purusha/Maskulin): Mewakili api, kehancuran yang menyuburkan, dan elemen langit.

2.      Danau (Pradhana/Feminin): Mewakili air, ketenangan, kesuburan, dan elemen bumi.

Penyatuan keduanya purusha dan pradhana di satu lokasi (Kaldera Batur) dianggap sebaga titik nol penciptaan harmoni di Bali. Inilah alasan mengapa setiap tarikan napas budaya di Batur UGGp selalu merujuk pada penjagaan kedua unsur geologi ini.

·        Mitologi Gunung Batur: Pasak Bumi Pulau Bali

 

Dalam teks kuno Lontar Rajapurana Pura Ulun Danu Batur, Gunung Batur diceritakan sebagai potongan dari Gunung Mahameru yang dipindahkan oleh para dewa untuk menstabilkan Pulau Bali.

·        Simbolisme Api: Gunung Batur dipuja sebagai stana (tempat bersemayam) Dewa Pasupati atau Dewa Agni (Dewa Api). Keberadaan kawah aktif dipandang sebagai lubang napas bumi yang harus dijaga keseimbangannya agar tidak membawa bencana.

·        Upacara Pakelem: Sebuah ritual sakral di mana hewan kurban atau persembahan lainnya dilarung ke dalam kawah atau danau. Ritual ini bertujuan untuk memohon izin kepada alam (dan Sang Pencipta) agar kekuatan geologi Batur memberikan kemakmuran, bukan kehancuran.

 

6.      Konservasi Berbasis Kesucian (Alas Kekeran)

 

Masyarakat Batur berinteraksi dengan hutan di lereng gunung melalui konsep kekeran (larangan).

 

·       Hutan sebagai Pelindung: Mereka memahami bahwa tanpa pohon, air danau akan surut dan bencana longsor akan terjadi. Oleh karena itu, hutan dijaga melalui status "Suci".

·       Interaksi Terbatas: Interaksi manusia dengan hutan hanya diperbolehkan untuk kepentingan komunal (upacara), bukan kepentingan pribadi. Ini adalah bentuk manajemen sumber daya alam kuno yang menjaga biodiversitas Kaldera Batur hingga hari ini.

 

7.      Ekonomi Kreatif Berbasis Lanskap

 

Secara historis, interaksi ekonomi masyarakat Batur sangat unik:

 

·         Pertanian Lahan Kering: Pemanfaatan tanah vulkanik yang subur untuk tanaman palawija dan hortikultura (jeruk, kopi, dan bawang) yang menjadi ciri khas ekonomi lokal.

·         Pasihan (Pertukaran): Terjadi interaksi sosial ekonomi antara masyarakat pegunungan (Batur) dengan masyarakat pesisir melalui pertukaran hasil bumi dan hasil laut, yang memperkuat kohesi sosial antarwilayah di Bali.

 

 

8.      Keragaman Kuliner dan Pertanian (Gastro-Culture)

 

Kesuburan tanah vulkanik melahirkan budaya kuliner yang spesifik:

·         Budaya bertani kopi Arabika dengan sistem naungan pohon pelindung, yang kini menjadi produk indikasi geografis pertama di Indonesia.

·         Pengolahan Hasil Danau: Tradisi mengolah ikan mujair dan nila (Ikan Mujair Nyat-Nyat) menjadi identitas kuliner yang menarik wisatawan dan mendukung ekonomi lokal.

9.      Integrasi dan Keberlanjutan (Kesimpulan)

 

Sebagai penutup dari rangkaian buku ini, kita menyatukan ketiga pilar (Geo, Bio, Cultur) dalam satu kesatuan visi masa depan.

 

a.    Batur UGGp: Sebuah Kesatuan yang Tak Terpisahkan

Batur UGGp bukan hanya tentang batu, tumbuhan, atau manusia secara terpisah. Geologi (Gunung dan Danau) menyediakan panggung dan air; Biologi (Hutan dan Pohon Taru Menyan) menyediakan napas dan penyeimbang; sedangkan Budaya (Subak dan Tradisi) adalah jiwa yang menjaga agar panggung tersebut tetap lestari.

b.    Menjaga Warisan untuk Masa Depan

Sebagai UNESCO Global Geopark, tantangan masa depan Batur adalah menjaga keseimbangan antara pariwisata dan konservasi:

1.      Konservasi: Melindungi dinding kaldera dari kerusakan dan menjaga kemurnian air danau.

2.      Edukasi: Menjadikan Batur sebagai sekolah alam bagi generasi muda untuk mempelajari bumi.

3.      Pemberdayaan: Memastikan masyarakat lokal (Bali Aga dan warga Kintamani) menjadi aktor utama, bukan sekadar penonton, dalam pengelolaan pariwisata berkelanjutan.

 

c.     Di Batur UGGp, ketiga pilar (Geo-Bio-Cultur) tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk rantai ekosistem yang saling bergantung:

·         Geologi Membentuk Budaya: Letusan gunung api menghasilkan batu basalt dan paras yang melimpah. Hal ini melahirkan gaya arsitektur pura yang kokoh dengan warna hitam pekat yang ikonik. Selain itu, bentuk danau yang menyerupai cawan raksasa melahirkan pemujaan terhadap Dewi Danu dan sistem distribusi air Subak.

·         Budaya Menjaga Biologi: Adanya konsep Hutan Keramat (Sacred Groves) di sekitar lereng Gunung Batur dan desa-desa Bali Aga memastikan vegetasi tetap terjaga. Masyarakat dilarang menebang pohon secara sembarangan karena keyakinan spiritual, yang secara tidak langsung melindungi habitat fauna dan daerah tangkapan air.

·         Geologi Mendukung Biologi: Mineral vulkanik yang kaya menyediakan nutrisi bagi tanaman endemik seperti Taru Menyan di Terunyan, yang kemudian digunakan manusia sebagai bagian dari tradisi pemakaman unik mereka.

 

10.          Upaya Konservasi: Melindungi Warisan Dunia

 

Menjaga Batur UGGp berarti menjaga masa depan Bali. Upaya konservasi difokuskan pada tiga ranah:

·         Perlindungan Geosite: Mencegah penambangan liar pada aliran lava bersejarah dan menjaga dinding kaldera dari pembangunan yang tidak terkendali agar integritas geologinya tetap utuh.

·         Pelestarian Danau: Penanganan sedimentasi dan polusi air di Danau Batur untuk memastikan "Menara Air Bali" ini tetap mampu menyuplai air bersih bagi pertanian di hilir.

·         Reboisasi Berkelanjutan: Penanaman kembali hutan di lereng gunung dengan spesies lokal (seperti Cemara Gunung) guna mencegah erosi dan menjaga kelembapan mikro di dalam kaldera.

 

11.          Potensi Geowisata: Menjelajah dengan Bertanggung Jawab

 

Geowisata bukan sekadar melihat pemandangan, melainkan wisata berbasis edukasi yang menghargai alam. Panduan bagi pengunjung:

·         Jejak Karbon Rendah: Mendorong aktivitas wisata seperti mendaki (hiking) dan bersepeda mengelilingi kaldera untuk meminimalkan polusi.

·         Wisata Budaya Sopan: Mengunjungi desa-desa tua (seperti Terunyan atau Desa Batur) dengan menghormati adat istiadat setempat dan menjaga kesucian area pura.

·         Ekonomi Lokal: Mengajak wisatawan untuk membeli produk pertanian lokal (Kopi Kintamani, Jeruk, atau hasil perikanan danau) sebagai bentuk dukungan langsung kepada masyarakat yang menjaga geopark ini.

 

12.      Mengapa Budaya Penting dalam Geopark

 

Dalam filosofi UNESCO Global Geopark, budaya adalah "roh" dari sebuah tempat.

1.      Konservasi Alam: Lewat konsep Hutan Keramat, budaya menjaga biologi.

2.      Identitas Wilayah: Tanpa budaya unik Bali Aga, Batur hanya akan menjadi gunung api biasa.

3.      Daya Tarik Geowisata: Wisatawan datang tidak hanya untuk melihat batu, tapi untuk merasakan bagaimana rasanya hidup di kaki gunung api yang aktif.

 

Interaksi manusia dengan alam Kawasan Batur Unesco Global Geopark  selama berabad-abad dibungkus oleh "Dasar keyakinan".

1.             Masyarakat bertindak sebagai penjaga (custodian), bukan pemilik. Alam memberikan kesuburan dan air, sementara manusia memberikan penghormatan dalam bentuk ritual dan penjagaan keasrian hutan. Inilah yang membuat Batur tetap lestari sebagai Global Geopark

 

2.             Batur UGGp adalah pengingat bahwa kita hidup di atas bumi yang dinamis. Melalui harmoni antara Geologi, Biologi, dan Budaya, kita belajar bahwa keindahan sejati lahir dari rasa hormat manusia terhadap kekuatan alam yang menciptakannya."

 

3.             Batur UGGp adalah sebuah permata yang rapuh namun perkasa. Keberhasilannya sebagai Geopark Global bergantung pada kemampuan kita untuk memastikan bahwa setiap deru napas budaya tetap selaras dengan denyut nadi geologi dan kesegaran biologi di dalamnya.

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

Kawasan Kaldera Batur bukan sekadar bentang alam vulkanik yang menakjubkan, melainkan sebuah ekosistem suci di mana geologi, biologi, dan kebudayaan menyatu tanpa sekat. Statusnya sebagai UNESCO Global Geopark adalah pengakuan dunia terhadap keunikan hubungan antara manusia Bali dengan lingkungannya.

Kaldera Batur adalah cermin dari filosofi Tri Hita Karana. Di sini, setiap jengkal tanah vulkanik, setiap tetes air danau, dan setiap bait doa dalam purana saling menguatkan. Menjaga Batur UUGp berarti menjaga napas kehidupan Bali itu sendiri. Keharmonisan ini adalah warisan yang harus kita titipkan dengan utuh kepada generasi mendatang, agar "Amerta" dari hulu tetap mengalir tanpa henti.

Batur UGGp adalah pengingat bahwa kita hidup di atas bumi yang dinamis. Melalui harmoni antara Geologi, Biologi, dan Budaya, kita belajar bahwa keindahan sejati lahir dari rasa hormat manusia terhadap kekuatan alam yang menciptakannya."

Batur UGGp adalah sebuah permata yang rapuh namun perkasa. Keberhasilannya sebagai Geopark Global bergantung pada kemampuan kita untuk memastikan bahwa setiap deru napas budaya tetap selaras dengan denyut nadi geologi dan kesegaran biologi di dalamnya.

 

4.1.        Kesimpulan Utama

 

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa

1.         Sinergi Geologi dan Spiritualitas: Letusan dahsyat Gunung Batur di masa lalu menciptakan kaldera ganda yang indah, namun bagi masyarakat setempat, fenomena ini adalah manifestasi kekuatan ilahi. Purana dan prasasti (seperti Catur Dharma Kalawasan) memastikan bahwa kemegahan alam ini dijaga melalui ritual dan aturan adat (Awig-awig) yang ketat.

2.         Danau Batur sebagai Jantung Pulau: Sebagai "Hulu" dari sistem irigasi Bali, Kaldera Batur memegang peran vital dalam ketahanan pangan seluruh pulau. Keberlangsungan Subak sangat bergantung pada kelestarian hutan dan kemurnian air danau yang dikelola melalui kepemimpinan spiritual Pura Ulun Danu Batur dan Pura Hulun Danu Songan

3.         Pelestarian Melalui Kearifan Lokal: Harmoni di Batur UGGp terjaga bukan hanya karena hukum negara, melainkan karena kepatuhan masyarakat terhadap nilai-nilai leluhur. Tradisi Alas Kekeran dan sanksi adat terhadap perusakan alam membuktikan bahwa kearifan lokal adalah bentuk konservasi lingkungan yang paling efektif dan berkelanjutan.

4.         Masa Depan Berbasis Warisan: Tantangan modernitas, pariwisata, dan perubahan iklim menuntut integrasi antara ilmu pengetahuan (Geopark) dan tradisi (Purana). Kaldera Batur adalah laboratorium hidup yang mengajarkan bahwa kemajuan ekonomi tidak harus mengorbankan akar budaya dan kelestarian alam.

 

4.2.        Saran-Saran

 

·       Agar tetap menjaga ritual di Desa-Desa Kawasan Batur UNESCO Global Geopark  tetap menjaga hubungan dengan Tuhan (Parhyangan)

·       Agar tetap menjaga  struktur adat (Ulu Apad) mengatur interaksi antarwarga (Pawongan)

·       Agar tetap memengang teguh Awig-awig melindungi lingkungan  alam dan lingkungan (Palemahan).

·       Peningkatan edukasi literasi Purana bagi generasi muda di Kawasan Batur UNESCO Global Geopark  agar kearifan lokal tidak luntur.

4.3.        Isu Kontemporer (Kritis)

 

·       Eutrofikasi Danau: Tantangan pencemaran air akibat keramba jaring apung dan limbah pertanian.

·       Mitigasi Bencana: Mengingat ini adalah gunung api aktif, penting untuk menyoroti bagaimana masyarakat di Kawasan Batur UUgp secara historis beradaptasi dengan letusan (seperti perpindahan desa tahun 1926).

 

  

 

DAFTAR ISTILAH (GLOSARIUM)

 

a.    Istilah Geologi (Geodiversity)

 

·       Basalt: Batuan beku berwarna gelap yang kaya akan zat besi dan magnesium, biasanya berasal dari aliran lava gunung api Batur yang mendingin.

·       Fumarola: Lubang di permukaan bumi (biasanya di kawah) yang mengeluarkan uap air dan gas-gas vulkanik.

·       Geosite: Situs atau area yang memiliki nilai warisan geologi yang signifikan dan memiliki fungsi edukasi serta wisata.

·       Ignimbrit: Produk batuan hasil endapan arus piroklastik (awan panas) yang sangat besar dan panas, menjadi bukti kunci letusan pembentuk Kaldera Batur di masa purba.

·       Kaldera: Cekungan raksasa berbentuk kawah yang terbentuk karena runtuhnya puncak gunung api ke dalam kantong magma yang kosong setelah letusan besar.

·       Lava Aa: Jenis aliran lava yang memiliki permukaan kasar, tajam, dan berbentuk bongkahan-bongkahan batu pecah.

·       Lava Pahoehoe: Jenis aliran lava yang memiliki permukaan halus, bergelombang, atau menyerupai pilinan tali.

·       Solfatara: Hembusan gas vulkanik yang banyak mengandung belerang (sulfur), biasanya terlihat sebagai asap kuning di sekitar kawah.

 

b.    Istilah Biologi (Biodiversity)

 

·       Endemik: Jenis flora atau fauna yang keberadaannya terbatas hanya di suatu wilayah tertentu dan tidak ditemukan secara alami di tempat lain.

·       Reboisasi: Penanaman kembali hutan yang telah gundul atau rusak untuk mengembalikan fungsi ekosistem dan daerah tangkapan air.

·       Suksesi Alami: Proses perubahan komposisi spesies dalam komunitas biologi secara bertahap, misalnya dari batu lava gersang menjadi hutan rimbun melalui perantara lumut dan paku.

·       Vegetasi Pionir: Tanaman pertama yang mampu tumbuh di lahan yang ekstrem dan misal nutrisi (seperti lumut di atas batu lava).

 

c.    Istilah Budaya (Cultural Diversity)

 

·       Bali Aga: Masyarakat Bali asli atau "Bali Mula" yang memiliki tatanan sosial dan dialek kuno, tinggal di pegunungan dan tetap menjaga tradisi pra-Majapahit.

·       Dewi Danu: Manifestasi Tuhan dalam kepercayaan Hindu Bali sebagai penguasa danau dan pemberi air kehidupan.

·       Mepasah: Tradisi pemakaman unik di Desa Terunyan di mana jenazah diletakkan di atas tanah (tidak dikubur atau dibakar).

·       Pakelem: Ritual persembahan suci dengan melarung hewan atau sesaji ke tengah danau atau kawah untuk menjaga harmoni alam.

·       Subak: Sistem organisasi kemasyarakatan tradisional di Bali yang khusus mengatur pembagian air irigasi secara adil dan demokratis.

·       Taru Menyan: Pohon harum endemik di Terunyan yang memiliki kemampuan menyerap bau jenazah di sekitarnya.

 

BIOGRAFI PENULIS

 

Lahir di Kota Seririt, Kabupaten Buleleng, Singaraja Bali pada tanggal 18 Nopember 1966, lulus Sekolah Dasar di SDN 1 Kerobokan, Kec. Busungbiu, Kab. Buleleng, Bali Tahun 1981,  melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama di SMP Dwijendra 2 Denpasar dan lulus Tahun 1984, lanjut ke SMA (SLUA) Saraswati 2 Denpasar lulus Tahun 1987. Melanjutkan kuliah D3 di Akademi Wiraswasta Dewantara, Universitas Mercubuana, Kebon Jeruk Jakarta Barat Lulus Tahun 1990, Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Kantor Sosial Politik Kabupaten Daerah Tingkat II Bangkalan Tahun 1990, melanjutkan Kuliah di Fakultas Hukum Universitas Bangkalan Madura (Universitas Trunojoyo) lulus Tahun 1995 dan sebagai Kepala Seksi Pengamanan Politik sampai Tahun 2000, menjadi Kepala Seksi Perijinan di Dinas Pariwisata Kabupaten Bangkalan sampai Tahun 2003, pada Tahun 2004 mutasi ke Dinas Pariwisata dan kebudayaan Pemerintah Kabupaten Bangli, sebagai Kepala Seksi Pengendalian Obyek Daya Tarik Wisata, dan melanjutkan kuliah di Sekolah Panca Sarjana, Fisipol Universitas Gajah Mada Program Studi Kesejakhteraan Sosial lulus Tahun 2005. Bekerja di Pengelola Batur UNESCO Global Geopark mulai Tahun 2012 – sampai sekarang sebagai Sekretaris Pengelola Batur UNESCO Global Geopark. Aktif di kegiatan organisasi sebagai Ketua Perhimpunan Panahan Indonesia (Perpani) Bangli sampai sekarang, sebagai ketua UMKM Naik kelas Kabupaten Bangli Tahun 2019 sampai sekarang, Sekretaris Forum Pelestarian Danau Batur Tahun 2026.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Sumber Geologi dan Vulkanologi:

Bronto, S. (2006). Fasies Gunung Api dan Aplikasinya. Jurnal Geologi Indonesia. (Menjelaskan karakteristik fisik gunung api di Indonesia).

Reubi, O., & Nicholls, I. A. (2004). Magmatic Evolution of Batur Volcanic Field, Bali, Indonesia: The Genesis of Vicatite and High-Alumina Basalt. Journal of Volcanology and Geothermal Research. (Referensi kunci mengenai proses pembentukan Kaldera Batur I dan II).

Sutawidjaja, I. S. (2009). Ignimbrit Batur dan Proses Pembentukan Kaldera Batur, Bali. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Wheller, G. E., & Varne, R. (1986). Genesis of Island Arc Volcanics: Geochemical Evidence from Batur Volcano, Bali, Indonesia. (Membahas kimia magma dan tektonik Batur).

 

Sumber Biologi dan Lingkungan:

MacKinnon, J., Phillipps, K., & van Balen, B. (2000). Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Puslitbang Biologi-LIPI. (Referensi fauna avifauna di kawasan Batur).

Whitten, T., Soeriaatmadja, R. E., & Afiff, S. A. (1996). The Ecology of Java and Bali. Oxford University Press. (Studi mendalam mengenai ekosistem dan vegetasi di lahan vulkanik).

 

Sumber Budaya, Subak, dan Masyarakat Bali Aga:

Dananjaya, J. (1980). Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. Penerbit Universitas Indonesia. (Buku wajib untuk referensi tradisi pemakaman dan sosial desa Terunyan).

Lansing, J. S. (1991). Priests and Programmers: Technologies of Power in the Engineered Landscape of Bali. Princeton University Press. (Penjelasan ilmiah mengenai hubungan sistem Subak dengan Pura Ulun Danu Batur sebagai sumber air).

Reuter, T. A. (2002). Custodians of the Sacred Mountains: Culture and Society in the Highlands of Bali. University of Hawaii Press. (Studi antropologi mengenai masyarakat Bali Aga/Bali Mula di pegunungan).

 

 

 

Sumber Kebijakan dan Geopark:

Badan Pengelola Batur UNESCO Global Geopark. (2012). Dossier of Batur UNESCO Global Geopark Nomination. (Dokumen resmi pengajuan Batur ke UNESCO).

UNESCO. (2015). Statutes of the International Geoscience and Geoparks Programme. (Pedoman resmi mengenai konsep pilar-pilar geopark dunia).

Kementerian Pariwisata RI. (2018). Pedoman Pengembangan Geowisata di Indonesia.

Purana Pura Ulun Danu Batur"  Batur Kalawasan  sebagai referensi literatur tradisional untuk memperkuat sisi mitologi dan sejarah lokal.

Purana Pura Pucak Penulisan “ Catur Dharma Kalawasan

Situs Web Resmi:  UNESCO Global Geoparks Network dan situs resmi pengelola Batur Geopark untuk data statistik terbaru (jumlah pengunjung, luas wilayah terbaru, dll)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daya Tarik Wisata Di Kecamatan Bangli Kab. Bangli

Peran Lembaga Desa Pakraman/Adat dalam Pelestarian Desa Tradisional Penglipuran Kubu Kabupaten Bangli