Geofeature, Geoevidence , Boiodiversity, Cultural diversity dan Geotrail

 

A.       Geofeature

BGF-01. Ropy lavas of 1849

Pada permukaan lava pahoehoe seringkali ditemukan sejumlah lipatan kecil menyerupai tali. Proses pembentukannya terjadi karena adanya dorongan aliran lava dari bagian bawah yang masih sangat panas dan cair atau karena lava tersebut berada pada suatu landaian. Aliran lava di bagian bawah ini mempengaruhi kulit lava bagian atas yang sudah mulai mendingin dan bersifat plastis, sehingga kulit lava pada bagian atas seolah-olah berkerut membentuk lipatan kecil seperti tali. Permukaan lava yang mempunyai kerutan atau lipatan seperti tali ini disebut sebagai lava tali atau “ropy lava” Pada suatu lembah yang sempit, aliran lava pada ke dua sisi aliran dapat terhambat oleh dinding lembah, sementara pada bagian tengah aliran tidak ada hambatan, sehingga bentuk lipatan tali tadi akan melengkung yang pada akhirnya dapat dijadikan indikasi arah aliran.

Image

                                                                                                      Gambar BGF-01. Ropy lavas of 1849

 

BGF-02. Aa lavas

Lava aa umumnya tidak cepat membeku. Oleh karena itu alirannya seringkali nampak dari permukaan. Kecepatan aliran lava tidak sama. Secara vertikal; bagian atas lava mengalir lebih cepat dari pada bagian bawahnya karena lava pada bagian atas lebih encer; sementara lava di bagian bawah selain lebih kental juga sedikit tertahan oleh permukaan tanah atau permukaan batuan yang telah ada sebelumnya. Secara horizontal, aliran lava lebih intensif di bagian tengah, sementara di ke dua sisinya lebih lambat. Karena itu, ke dua sisi aliran lava lebih cepat membeku dari pada bagian tengahnya. Pembekuan lava ini menjadi endapan lava. Ketika lava yang mengalir lebih banyak, maka akan terjadi limpahan aliran lava, sehingga endapan lava di ke dua sisi alur aliran semakin tinggi. Ketika erupsi berhenti lava di bagian tengah alur aliran akan habis mengalir meninggalkan jejak aliran yang disebut sebagai “aa channel”.

Image

                                                                                            Gambar BGF-02. Aa lavas

 

BGF-03. Clinker / Slag

Fragmen yang terdapat pada permukaan lava aa disebut “clinker” atau “slag”. Lava aa terkadang menunjukkan perlapisan yang terdiri dari fragmen lava. Lava aa ini terjadi pada lava sangat kental, di mana permukaannya terpecah-pecah menjadi fragmen karena pengaruh aliran lava di bagian bawahnya. Pada saat pemisahan fragmen tersebut terjadi gaya tarik-menarik antar fragmen karena sesungguhnya antara satu fragmen dengan yang lainnya dalam kondisi lengket. Fragmen yang lengket itu satu dengan yang lainnya terus tarik menarik sehingga pada akhirnya terpisah membentuk permukaan yang runcing-runcing (duri lava).

Image

                                                                Gambar BGF-03. Clinker / Slag

 

BGF-04. Vesicular dan Scoreaceous Lavas

Pada bagian dalam, lava lebih lama dalam kondisi cair sehingga kandungan gasnya akan lebih banyak yang terlepas. Pada bagian luar, lava lebih cepat membeku sehingga kandungan gasnya akan lebih banyak yang terperangkap. (Lava merupakan cairan kental sehingga gas sulit keluar). Oleh sebab itu bagian dalam suatu aliran lava biasanya lebih bersifat kompak dan masif; sedangkan pada bagian permukaannya berongga. Rongga di dalam lava ini disebut “vesicles”, sedangkan lavanya disebut lava berongga atau lava vesikuler.

Image

                                                                Gambar BGF-04. Vesicular dan Scoreaceous Lavas

 

BGF-05. Spatter Cones, Hornitoes, Tumuli, and Driblet Spires

“Hornitos” atau (“driblet spires”) yaitu bentuk lava yang mencuat ke atas dengan permukaan runcing, tidak berbentuk kerucut. Bentuk ini terjadi karena gas yang masih panas di bagian bawah keluar melalui rekahan membawa bercak lava. Bercak lava ini kemudian terlaskan dan akhirnya membeku dengan bentuk yang tidak beraturan.

Group

Gambar BGF-05. Spatter Cones, Hornitoes, Tumuli, and Driblet Spires

 

“Tumuli”

Pada lava terkadang dijumpai bukit kecil menyerupai kubah. Bukit ini terbentuk karena proses yang sama dengan pembentukan “pressure ridges”, tetapi pada permukaannya terdapat retakan yang terbuka; seringkali lava dari bagian bawah naik melalui retakan tersebut membentuk “squeezed up” yang akhirnya mengalir ke lereng. Bukit yang terbentuk karena proses seperti ini disebut “tumuli”.

Image

                                                                        Gambar Tumuli

 

BGF-06. Lava Pipe dan Lava Spiracle

Apabila aliran lava melewati permukaan yang basah, maka kandungan air dari permukaan akan berubah menjadi uap panas bertekanan tinggi. Uap panas ini menekan dan masuk ke dalam bagian bawah lava membentuk rongga vertikal seperti pipa, disebut sebagai rongga pipa atau “pipe vesicles”. Ujung bagian atas biasanya melengkung sesuai dengan arah aliran lava. Apabila bagian dasar lava tersebut keras, maka uap panas bertekanan tinggi tadi akan meledak yang menyebabkan terbentuknya rongga menyerupai silinder yang tidak beraturan, rongga seperti ini disebut “spiracle”.

Picture 45

                                                        Gambar BGF-06. Lava Pipe dan Lava Spiracle

 

BGF-07. Lava Balls (Accretionary Lava Balls atau Snowball lava) dan Slab

Pada beberapa aliran lava aa, di atas “clinker” atau menyatu dengan “clinker” seringkali ditemukan bola lava atau (“Accretionary Lava Balls”). Bola lava ini terbentuk oleh fragmen yang padat yang awalnya berupa “clinker” atau fragmen lainnya yang terlepas dari dinding lava, kemudian menggelinding di atas lava. Pada saat menggelinding, material lava yang dilaluinya menempel pada fragmen tersebut, sehingga makin jauh menggelinding makin besar ukurannya dengan bentuk yang relatif bundar. Fragmen bundar yang menjadi besar ini disebut bola lava atau “Accretionary Lava Balls”.

Group

Gambar BGF-07. Lava Balls (Accretionary Lava Balls atau Snowball lava) dan Slab

 

BGF-08. Pillow Lavas and Bolster Lavas

Lava yang diendapkan di dalam air akan mempunyai bentuk elips berukuran puluhan cm sampai beberapa meter yang nampak terpisah antara satu dengan yang lainnya. Bentuk elips beragam, mulai dari seperti matras, karung, bola, balon dan lainnya, secara umum dikenal dengan sebutan lava bantal atau (“pillow lavas”).

Group

Gambar BGF-08. Pillow Lavas and Bolster Lavas

 

BGF-09. Lava Toes atau Pahoehoe Toes dan Lava Talus

Geosite ini terletak di sisi tenggara dari Gunung Batur. Pada lokasi ini dijumpai kenampakan lava pahoehoe dengan warna hitam, struktur vesikular, dengan kristal afanitik. Lava ini memiliki kenampakan khas dengan permukaan yang halus dan terlihat kenampakan lava lobe dan terlipat. Lava pahoehoe yang terbentuk dihasilkan dari produk erupsi tahun 1849 dengan komposisi basalt. Lava pahoehoe memiliki viskositas yang rendah diakibatkan karena memiliki kandungan gas/fluida tinggi yang belum keluar selama proses kristalisasi.

Lava pahoehoe dihasilkan ketika lava bergerak dengan lambat, sehingga bagian luar dari lava dapat mendingin dengan baik sehingga menghasilkan permukaanlava yang halus, dan terkadang dapat terlipat membentuk struktur seperti tali.

 

“Pahoehoe toe”

Lava yang masih cair dari bagian dalam menekan tepian lava yang bersifat plastis. Oleh karena itu, tepi aliran lava tidak menipis melainkan tetap tebal dan lebih tinggi dari sekitarnya. Apabila tepi aliran lava tersebut daya elastisitasnya terlampaui, maka akan terjadi retakan dan lava dari bagian dalam akan menerobos melalui retakan tersebut, membentuk jari lava atau “finger like” lava, dikenal dengan “pahoehoe toe”.

Group

Gambar BGF-09. Lava Toes atau Pahoehoe Toes dan Lava Talus

 

BGF-10. Lava Talus

Pada aliran lava (pahoehoe), bagian dasar lava mengalir lebih lambat dari pada bagian atasnya, sehingga ujung lava semakin tegak sampai akhirnya menjadi tidak stabil kemudian sebagian lava mulai terpisah dari tubuh lava utamanya dan akhirnya jatuh. Oleh sebab itu di muka arah aliran lava seringkali terdapat fragmen lava mulai ukuran butiran sampai bongkah. Fragmen lava ini dikenal sebagai talus lava.

Group

Gambar BGF-10. Lava Talus

 

BGF-11. Lava Tubes atau Lava Tunnels

Terowongan lava merupakan salah satu fitur aliran lava hasil erupsi Gunung Batur. Lava ini umumnya memiliki tipe lava aa yang tersusun atas material basaltik. Permukaan lava ini sangat tidak teratur, memperlihatkan retakan, pecahan, atau bongkahan pada bagian permukaannya, akibat pendinginan awal. Terowongan lava ini terbentuk akibat adanya pergerakan cairan bagian inti lava, sedangkan bagian permukaan lava telah mengalami penginginan terlebih dahulu. Hal ini menyebabkan terbentuknya terowongan di dalam lava.

Lava tube atau gua lava terbentuk dari aliran lava di bagian dalam, sementara bagian luarnya telah membeku. Hal ini terjadi apabila pusat erupsi tidak mengeluarkan lava lagi sehingga aliran lava di bagian dalam akan menjadi ruang kosong (gua) atau “lava tube”. Atap gua lava biasanya melengkung sedangkan bagian dasarnya datar. Aliran lava terakhir biasanya lebih kental (lava aa) sehingga dasar gua lava biasanya terdiri dari “clinker” lava aa.

Group

Gambar BGF-11. Lava Tubes atau Lava Tunnels

 

BGF-12. Lava Stalactites

Stalaktit pada gua lava terbentuk dari tetesan lava. Tetesan ini berasal dari lava yang masih cair di atas atap gua yang merembes melalui retakan atap gua dan membeku sebelum jatuh ke lantai. Stalaktit juga dapat terbentuk dari lava kental yang tertinggal pada atap gua ketika permukaan aliran lava menurun. Proses lainnya terbentuk dari pelarutan kembali sebagian atap gua akibat panas dari gas yang keluar dari aliran lava di dalam lorong gua. Tetesan lava dari atap gua ini apabila jatuh ke lantai dapat membentuk stalagmit.

 





Gambar BGF-12. Lava Stalactites

 

 

BGF-13. Lava Steptoe

“Slab”

Kadangkala aliran lava pahoehoe di bagian bawah menyeret permukaan lava yang telah membeku sehingga permukaan lava retak dan kemudian pecah menjadi sejumlah lempengan yang dikenal sebagai “slab”. Karena lava di bagian bawah terus mengalir, lempengan lava yang terbentuk tadi terus bergerak dan bertabrakan satu dengan yang lainnya sehingga terungkit dan atau terangkat. Lempengan lava ini masih mencerminkan lava pahoehoe, bagian atas permukaannya halus atau sedikit terkerut sementara pada bagian bawahnya terdapat tetesan lava yang telah membeku. Di bawah lempengan lava yang terangkat tadi, permukaannya dipenuhi duri-duri lava yang lebih mencerminkan lava aa (“clinker”). Hal ini menunjukkan terjadinya perubahan kekentalan lava, dari lava encer (lava pahoehoe), sejalan dengan penurunan temperatur, berubah menjadi lava yang lebih kental (lava aa); atau dengan kata lain, lava pahoehoe yang menampakkan lempengan di permukaannya merupakan lava peralihan dari lava pahoehoe ke lava aa.

                                                                            Gambar Slab

 

“Pressure Ridges”

Permukaan lava dapat terangkat membentuk bukit yang bundar atau elips akibat tekanan aliran lava dari arah belakang secara horizontal. Bukit yang terbentuk karena proses tekanan ini disebut sebagai “pressure ridges”. Ketinggian bukit elips atau “antiklin” itu juga dipengaruhi oleh tekanan hidrostatik dari lava cair dibawahnya.

                                                                                        Gambar Pressure Ridges”

 

“Squeezed Up”

Pada permukaan lava akan terdapat berbagai retakan. Retakan ini terjadi karena pengkerutan pada saat pendinginan dan karena tekanan dari aliran lava di bagian bawah. Lava yang masih bersifat cair di bagian bawah dapat naik karena tekanan hidrostatik. Naiknya lava cair ini terkadang sampai ke luar permukaan membentuk bukit kecil dengan permukaan melengkung berbentuk bundar atau elips atau juga membentuk tonjolan tajam, disebut sebagai “squeezed up”.

                                                                        Gambar  Squeezed Up”

 

B.        Geoevidence

Berikut adalah 20 geoevidence yang dihasilkan dari letusan Gunung Batur Purba baik didalam maupun diluar Kaldera Batur.

 

Tabel Geoevidence Gunung Batur

A

Nama Geoevidence ( dalam Kaldera )

Keterangan

1

Tephra/ airfall deposit

lapisan jatuhan piroklastik

2

Ignimbrit/aliran piroklastik

endapan aliran piroklastik

3

Longsoran Vulkanik

proses longsoran vulkanik

4

Denselywelded ignimbrite

batuapung  terlaskan

5

Partly weldedignimbrite

batu apung terlaskan lemah

6

Tefra batu apung

endapan jatuhan batu apung

7

Pumice flow

endapan aliran batu apung

8

Tefra Skoria

endapan jatuhan  scoria

9

Surge deposits

struktur endapan piroklastik

10

Dykes

terobosan batuan baku

11

Hotspring Songan

mata air panas vulkanik

B

Nama Geoevidence (di luar Kaldera )

Keterangan

1

Ignimbrit Ubud

endapan abu batu apung

2

Ignimbrit Gunung Kawi

endapan awan panas

3

Pumice full Kintamani

endapan jatuhan batu apung

4

Ash flow deposit Kintamani

endapan aliran abu

5

Tukad Was

bentang alam lembah sungai

6

Tukad Petanu

bentang alam lembah sungai

7

Pura Gunung Kawi

bangunan pura alami

8

Ashflowcrafts

arca abu vulkanik

9

Ashflow tiles

endapan awan panas pumice

 

C.        Peta Sebaran Geosite Batur UNESCO Global Geopark

Berdasarkan keunikan batuan/geologi di kawasan Batur UNESCO Global Geopark dapat dipetakan sebaran beberapa area yang dapat dijadikan sebagai potensi Geosite dari segi keindahan alam yang ditampilkan maupun kekayaan sumber daya yang dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan. Berikut merupakan sebaran potensi Geosite pada kawasan Batur UNESCO Global Geopark (Gambar III.3).

                                                             Peta Sebaran Geosite di Kawasan Batur UGGp

     

D.        Biodiversity

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Bangli Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Geologi Kawasan Geopark Batur BAB VI dijabarkan terkait perlindungan dan pemanfaatan keragaman hayati yang dapat dijabarkan sebagai berikut.

1.         Jenis Flora yang Terdapat di Geopark Batur

a.    Puspa (schima noronhaea);

b.    Tusam (pinus merkusil);

c.     Ampupu (eucalyptus urophylla);

d.    Mahoni (swietenia macrophylla);

e.    Sengon (paraserienthis falcataria);

f.      Sonokeling (dalbergia latifolia);

g.    Akasia (acacia decurens);

h.    Segawe (adenanthera paronina);

i.      Pinus (casuarina equsetrofolio);

j.      Kembang sepatu (hibiscus tilaceous); dan

k.     Dapdap (erytrina variegate)

l.      Pohon Taru Menyan (ficus benyamina)

m.  Komoditas tanaman Jeruk Kintamani tersebar di lembah Kintamani;

 

2.         Jenis Fauna Satwa Liar yang Terdapat di Geopark Batur

a.    Pegar atau ayam hutan (gallus varius);

b.    Tekukur (streptopelia chinensis);

c.     Terocok (gouvier ahalis);

d.    Kacer atau becica (copsycus saularis);

e.    Musang (paradoxurus hermaproditus);

f.      Landak (hystrix branchura);

g.    Trenggiling (manis javanica);

h.    Tupai (tupaina javanica); serta

i.      Monyet (macaca fascicularis).

j.      Anjing Kintamani (canis lupus familiaris) di Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani

 

Berikut (Gambar III.5) merupakan sebaran potensi hayati pada kawasan Batur UGGp.

                                                                Peta Sebaran Keragaman Hayati di Kawasan Batur UGGp

 

E.         Cultural diversity

Peninggalan Arkeologi

Dalam Pura Dalem Belingkang terdapat sebuah megalitikum yang bentuknya bulat dan bagian dalamnya tebelah menjadi dua bagian sehingga menyerupai bentuk vagina. Batu ini sebagai perwujudan dari Ida Ratu Ayu Subandar. Kutipan Prasasti Sading C menyebutkan nama Raja Cri Danawa atau Cri Danawaraja yang menggantikan raja Macula-maculi memerintah Bali pada tahun 1255 M. Dalam Lontar Ucana Bali disebutkan Ratu Daitya berkeraton di Balingkang. Dengan persembahan ini maka Cri Danawa Raja dalam Prasasti Sading C identic dengan Ratu Daitya dalam Lontar Ucana Bali yang tiada lain dari pada Raja Mayadanawa. Kata Balingkang berarti Raja Bali. Kang sangat mungkin berasal dari kata Cina Kuno yang berarti Raja. Dalam Pura Panarajon di atas Bukit Penulisan, terdapat sepasang arca perwujudan suami istri yang dibuat terpisah. Arca yang pria profilnya sebagai orang Bali pegunungan, sedangkan arca yang Wanita profilnya sebagai putri Cina. Orang-orang Cina yang bertempat tinggal di sekitar Kintamani yang memuja arca tersebut menyebut arca suami istri itu adalah arca Ratu Chung Kang, berarti Raja Dinasti Chung di negeri Cina yang kawin dengan Raja Bali Kuno yang berkeraton di Balingkang.

Foklore tentang perkawinan Raja Bali dengan Putri Cina itu kemudian disimbolkan di dalam tarian Barong Landung yang kini masih ada di Bali. Terdapat peninggalan yang bermotif Cina dan pelinggih Gedong Mas di Pura Dalem Balingkang yang erat kaitannya dengan unsur kelenteng serta pelinggih Ida Ratu Ayu Subandar, memperkuat cerita rakyat tersebut.

Jero Gde Dalem Balingkang (menurut sebutan masyarkat Pinggan yang mengemongnya) terletak di Desa Pinggan dikelilingi oleh sungai dan bukit sehingga berbentuk benteng alam. Menurut masyarkat Pinggan, bahwa Pura Panarajon di Bukit Penulisan adalah sebagai hulu (kepala) dari Jero Gde Dalem Balingkang. Hal itu memberikan petunjuk bahwa Pura Tegeh Koripan dimana termasuk pula sebagai Pura Panarajon di Bukit Penulisan adalah suatu tempat suci yang menjadi pujaan Raja Bali Kuno zaman dahulu.

Pola Pura Dalem Balingkang mencerminkan pola Keraton seorang raja. Adanya tunon atau tempat pembakaran jenazah untuk bangsawan, sebagai tempat bekas dihuni oleh penghuni keraton. Sehingga masyarakat Pinggan yang ngemong Pura itu menyebutkan Jro Gde Dalem Balingkang yang berarti Keraton Besar Raja Bali. Berdasarkan kajian data di atas diperoleh petunjuk bahwa Pura Dalem Balingkang pada mulanya adalah keraton Raja Mayadenawa yang menguasai Pulau Bali tahun 1255 Masehi.

Masyarakat di kawasan perencanaan telah mengalami berbagai dinamika dan perubahan kebudayaan. Dinamika dan perubahan tersebut berproses menuruti alur perkembangan tiga tradisi utama yang merupakan refleksi keseluruhan kebudayaan Bali, yaitu “Tradisi Kecil”, “Tradisi Besar”, dan “Tradisi Modern”. Tradisi Kecil terdiri dari unsur-unsur kebudayaan Bali yang berasal dari kehidupan Pra Hindu, seperti yang masih tampak dalam segi-segi kehidupan masyarakat Bali Aga. Tradisi besar mencakup unsur-unsur kehidupan masyarakat dan kebudayaan yang berkembang seiring dengan Agama Hindu. Tradisi modern mencakup unsur-unsur yang berkembang sejak jaman penjajahan, kemerdekaan, dan era reformasi serta globalisasi.

Tidak terlepas dari perkembangan tiga tradisi tersebut, masyarakat di wilayah perencanaan mempunyai latar belakang masyrakat tradisional sebagai masyarakat Bali Aga “Bali Mula” yang sampai sekarang masih tampak ciri-ciri dan aspek-aspek budaya yang melekat pada kehidupan masyarakatnya sehari-hari. Istilah Bali Aga adalah untuk membedakan keterangan orang Bali dengan kebudayaan Pra Hindu dan orang Bali dengan kebudayaan Hindu (Hindu Jawa) yang disebut “Bali Apanaga”.

Perbedaan itu terutama dari faktor geneologis dan faktor budaya. Perbedaan geneologis yaitu orang Bali Aga adalah termasuk kepala orang “Bali Mula” ditambah dengan orang Bali keturunan ”Mongoloid”. Sedangkan orang Bali Apanaga atau Bali dataran merupakan orang yang datang ke Bali dari Jawa Singasari melalui persebaran penduduk dan ekspedisi, seperti ekspedisi Singasari tahun 1284 M dan ekspedisi Gajah Mada tahun 1343 M.

                                                                Peta Sebaran Keragaman Budaya di Kawasan Batur UGGp

 

 F.         Jalur Geotrail

Geotrail Kaldera Purba 1

 

Nuansa relegi dan budaya sangat kental ketika menelusuri jalur Geotrail Kaldera Batur Purba 1. Selain limpahan cerita geologi pembentukan Gunung Penulisan (tua)/Gunung Batur Purba seluruh Citra sejarah Pulau Bali tersingkap pada jalur wisata ini. Geotrail Kaldera Batur Purba 1 ini menyajikan harmonisasi antara cerita sejarah Bali masa kuno dan kegeologian.

 

Jalur Geowisata Kaldera Batur Purba 1 ini melalui:

 

1.         Museum Geopark Batur

2.         Pura Batur

3.         Pura Penulisan

4.         Bukit Cinta Pinggan

5.         Pura Dalem Balingkang

6.         Desa Belandingan/Pura Manik Muncar

7.         Alengkong View Point

8.         Pura Hulundanu Batur - Songan

9.         Natural Hot Spring

10.     Julia Robert Point

11.     Pura Segara Ulun Danu Batur

12.     Kuliner


Image

 

Jalur Geowisata Gunung Batur Purba 2 ini yaitu:

1.       Museum Geopark Batur

2.       Black Lava

3.       Geosite Bukit Payang

4.       Pura Bukit Mentik

5.       Geosite Cynder Cone Yeh Mampeh

6.       Pura Tirtha Mas Mampeh

7.       Air Terjun Purba Tirtha Mas Mampeh

8.       Pura Hulundanu Batur

9.       Natural Hot Spring

10.   Julia Robert Point

11.   Pura Segara Ulun Danu Batur

12.   Kuliner


Image

 

 

G.        Geotrail Abang Erawang

 

Eksplorasi Geopark Batur dari sisi Tenggara, satu suguhan aktivitas wisata yang sedikit berbeda. Geotrail Abang Erawang menyajikan kawasan hutan yang begitu sejuk. Ketiga kawah Gunung Batur tampak sempurna didampingi hamparan Danau Batur yang indah dibawahnya. Melalui menara pandang Abang Erawang kita dapat menyaksikan keindahan Danau Batur yang berbentuk bulan sabit yang terlihat sempurna dari titik ini.

 

Jalur Geowisata Abang Erawang yaitu:

1.    Abang Erawang View Point

2.    Air Terjun Tirtha Peceburan

3.    Pucak Gunung Abang

4.    Desa Buahan

5.    Trek Sepeda

6.    Biodiversity

7.    Museum Geopark Batur

 

 

Image

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daya Tarik Wisata Di Kecamatan Bangli Kab. Bangli

Peran Lembaga Desa Pakraman/Adat dalam Pelestarian Desa Tradisional Penglipuran Kubu Kabupaten Bangli